Ada Dunia21 dan IndoXXI, Berapa Keuntungan Situs Film Bajakan?

5083
Cinema
lebaran

Katakota.com, -Aktivitas nonton film dianggap sebagai sebuah jalan keluar dari kenyataan yang ada kalanya membosankan. Apalagi kalau film-film yang ditonton punya jalan cerita yang seru dengan karakter yang bener-bener kita idolakan. Meski demikian, enggak semua orang memilih pergi ke bioskop untuk nonton film. Banyak di antara mereka—mungkin juga lo—suka nonton film di rumah. Entah dengan membeli film di aplikasi-aplikasi resmi, beli DVD resmi, atau yang terakhir, nonton film bajakan.

Saat ini, sudah banyak beredar situs bajakan yang menyajikan berbagai jenis film secara gratis, baik yang sudah maupun enggak pernah diputar di bioskop. Beberapa situs yang cukup terkenal adalah LK21 atau Layar Kaca 21 yang kini berubah jadi Dunia21 dan IndoXXI yang juga berubah jadi grandXXI lalu berubah lagi jadi IndoXXI1. Dua situs ini banyak jadi perbincangan karena koleksi yang lengkap dan server yang cepat.

Layar kaca21 yang kini berganti jadi Dunia21.net dan IndoXXI yang kini juga berganti jadi grandXXI.com

Mau nonton film yang baru beredar seminggu yang lalu? Dua situs tersebut sudah menyediakannya walaupun mungkin kualitasnya masih sekadar cam alias rekaman. Kalau mau nonton yang lebih nyaman, lo bisa nunggu sebulan sampai tiga bulan sampai keluar versi high-definition (HD).

Semua orang, termasuk lo, tentunya tahu bahwa hal tersebut pastinya enggak legal. Namun, karena satu dan lain hal, beberapa dari kita jadi tutup mata akan hal itu. Padahal, harus disadari bahwa keberadaan situs-situs ilegal ini berpengaruh terhadap kualitas produksi film. Nah, sebagai pencinta film, yuk, buka mata lo!

Bioskop Ilegal, Murah dan Enggak Ribet

Via Istimewa

 

Bisa lo bayangin, kenapa banyak orang yang mengurungkan niat ke bioskop dan memutuskan nonton film di situs bajakan? Pertama, lo butuh waktu buat pergi ke bioskop dan menyesuaikan dengan jadwal film yang ada. Kedua, harga tiket itu enggak murah-murah amat, apalagi kalau lo nonton di kelas premier yang eksklusif itu. Bayangin aja, kalau lo harus maraton film sebulan penuh, berapa uang yang harus lo keluarin? Bisa buat langganan katering bulanan, tuh!

Selain itu, enggak semua orang suka nonton sendiri dan dikelilingi orang asing. Kadang, hal ini bikin mati gaya. Apalagi kalau di sebelah lo adalah sepasang kekasih yang enggak kenal tempat buat bermesraan.

Via Istimewa

 

Nah, situs-situs film bajakan ngambil celah di sini. Lo bisa nonton film apa aja, di mana aja, kapan aja. Mau di kampus, bisa. Waktu perjalanan mudik? Boleh banget. Di kamar sambil makan popcorn? Ideal, deh. Lo serasa memiliki bioskop pribadi di mana-mana. Pertanyaannya, apakah yang lo lakukan itu legal?

Jawabannya jelas. Namun, banyak di antara kita jadi enggak peduli karena, yah, berapa, sih, kerugian para produser film besar itu bila dibandingkan dengan perilaku kita? Lagipula, kalau kita enggak punya uang karena kebanyakan nonton film, para sineas itu enggak akan membantu kita, ‘kan? Sesuai dengan prinsip ekonomi, manusia cenderung pengen mendapatkan keuntungan setinggi mungkin dengan pengorbanan serendah-rendahnya.

Via Istimewa

 

Enggak ada yang tahu siapa aja sosok di balik Layar Kaca 21. Nama situsnya aja berubah-ubah. Sekarang, situs LK21 (dulunya adalah lk21.tv) berubah menjadi Dunia21.net dan kini Perubahan Dunia21.top. domain ini tentunya dilakukan supaya situs enggak mudah terblokir karena situs asli udah diblokir oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Maklum, namanya juga situs film bajakan.

Meski domainnya udah ganti, orang-orang tetep menyebutnya dengan nama LK21. Yap, film bajakan memang udah identik sama nama ini, bahkan sekalipun lo nontonnya di situs indoxxi1.show dan situs-situs lain dengan nama yang ribet.

Pendapatan Bulanan yang Menyamai Keuntungan Bioskop

Via Istimewa

 

Coba deh, lo cari kata kunci “LK21” atau “IndoXXI” di Twitter. Niscaya, lo bakal ngelihat banyak orang merekomendasikan dua situs ini buat nonton film, alih-alih nonton di bioskop. Bahkan, banyak orang ogah-ogahan ke bioskop dan memilih untuk menunggu film kesayangan di LK21.

Berdasarkan data 2017 di Histats dan Alexa, peringkat LK21 di internet benar-benar patut “diacungin jempol”. Dalam Histats, tertera bahwa data pengunjung LK21 mencapai rata-rata 8 juta orang per hari. Dengan perhitungan iklan dikalikan jumlah pengunjung, bisa diperkirakan bahwa pendapatan LK21 per hari mencapai Rp80 juta.

 

Yap, jumlah yang amat fantastis! Pemiliknya mungkin suatu saat bisa bikin bioskop sendiri. Yah, data ini cuma valid pada 2017 karena LK21 doyan gonta-ganti nama situs, bahkan mungkin punya berbagai cabang situs.

Sementara itu, indoXXI sendiri masuk ke 40 besar situs terbanyak diakses di Indonesia dilihat dari Alexa. Berdasarkan data dari Azstats sendiri, diperkirakan situs ini bisa mendapatkan sekitar 20.000 dolar Amerika per hari atau sekitar Rp280 juta. Lo bayangin, deh, dalam sebulan indoXXI1.show bisa meraup keuntungan sampai Rp8,4 miliar.

Bisnis Bioskop Ilegal, Lebih Manis daripada Bisnis Bioskop Legal

Via Istimewa

 

Pengalaman menonton film secara langsung di layar bioskop memang enggak tergantikan. Apalagi, sekarang bioskop seperti XXI atau CGV Blitz memberikan inovasi-inovasi baru. Sebut aja tempat menonton yang cozy, pernak-pernik unik, dan fasilitas bioskop premium semisal Velvet yang mana setiap orang bisa dapat satu sofabed untuk nonton film.

Nah, bisnis film ini pun dianggap sebagai bisnis manis karena keuntungan lo bisa berlipat ganda sampai 300% dari modal seperti proyektor dan layar. Namun, harus diingat bahwa sebuah bioskop punya biaya operasional tinggi, mulai dari listrik, kebersihan, air, hingga pajak hiburan. Yap, pajak hiburan buat film sendiri cukup besar, yakni 10%!

Via Istimewa

 

Oh, ya, balik lagi ke situs nonton film bajakan. Viewers situs-situs ini bisa mencapai jutaan per harinya. Ini angka fantastis yang tentunya sulit dicapai oleh bioskop mana pun. Bahkan, angka 6 juta aja udah dianggap tinggi untuk jumlah penonton film Indonesia.

Jadi, lo bisa bayangin, bagaimana ruginya para produser film dan bioskop dengan semakin maraknya situs bajakan, ‘kan? Apalagi, berbeda sama bioskop, mereka enggak bayar pajak dan enggak bayar apa pun ke para produser serta sineas. Sedihnya lagi, banyak media daring yang ngasih tahu lo cara-cara buat mengunduh film dari situs-situs kayak Dunia21 dan indoXXI.

Via Istimewa

 

Ya, nonton streaming aja udah cukup membunuh banyak film bagus. Bagaimana kalau bisa diunduh pula? Pastinya, film-film makin gampang untuk diperbanyak dan didistribusikan secara ilegal.

Bayangkan aja, lo udah mengeluarkan uang banyak buat sebuah proyek, tapi ada orang-orang yang menikmati proyek itu tanpa bayar. Kalau cuma satu orang, sih, masih mending. Nah, bagaimana kalau sampai jutaan per hari?

Kalau lo produser film-film Marvel, lo mungkin masih bisa cuek sedikit. Lain halnya kalau lo jadi produser film-film Indonesia yang lo tahu susah banget buat mencapai angka penonton jutaan dalam sekali masa tayang dari seluruh bioskop se-Indonesia.

Pembajakan dan Kematian Industri Perfilman

Via Istimewa

 

Sebetulnya, terlalu jauh kalau kita bilang bahwa situs bajakan kayak Dunia21 itu bikin film-film pada mati. Nyatanya, film-film baru terus diproduksi dan keuntungan dari film-film itu tetep besar. Namun, hal ini bisa aja terjadi kalau kita ngomongin film-film Box Office dengan keuntungan yang memang setara dunia.

Masalahnya, enggak semua film kayak begitu. Seperti yang udah disinggung sebelumnya, film Indonesia enggak semuanya menguntungkan. Banyak yang meskipun idenya bagus, nyatanya enggak banyak orang tertarik.

Via Istimewa

 

Mungkin lo sedikit penasaran, berapakah harga produksi sebuah film di Indonesia? Berbeda dengan film Hollywood, film-film Indonesia memang enggak terlalu transparan soal biaya pembuatan. Namun, ada beberapa film yang ketahuan perkiraan biaya pembuatannya. Habibie & Ainun (2012) misalnya.

Mungkin lo pikir, membuat film drama tanpa efek bak film-film Marvel enggak akan menghabiskan banyak dana. Salah besar. Buat film Habibie & Ainun, rumah produksi yang bersangkutan diperkirakan mengeluarkan biaya sekitar Rp40 miliar.

Sementara itu, film aksi berkualitas layaknya The Raid 2 (2014) menghabiskan biaya produksi sekitar Rp54 miliar. Bahkan, mahasiswa jurusan penyiaran atau perfilman yang bikin film pendek sederhana buat tugas kuliah aja harus menghabiskan dana jutaan kalau mau hasilnya berkualitas.

Via Istimewa

 

Jadi, sebenarnya enggak bijak kalau kita terus-menerus mengkritik kualitas berbagai film, terutama yang di dalam negeri, kalau kita masih nonton film bajakan dari tempat-tempat kayak Dunia21 dan indoXXI. Yap, karena kita terlalu malas nonton film-film bagus di bioskop, pada akhirnya banyak produser yang berpikir bagaimana caranya bikin film dengan bujet serendah mungkin, tapi bisa mendulang keuntungan besar. Salah satunya bikin film-film yang ceritanya ngaco atau sekadar mengekor kesuksesan film lama, tapi sarat kontroversi.

***

Nah, sebagai pencinta film, lo enggak perlu harus menghabiskan semua uang lo buat menonton semua film di bioskop. Namun, lo bisa memulainya dengan menonton film-film yang memang benar-benar lo sukai di bioskop. Kalau memang cinta, kenapa harus pakai yang palsu?

Yuk, coba utarain pendapat lo di kolom komentar!

Sumber : Kincir.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.