BSF Maggot Mempercepat Pengkomposan

2
Webinar DLH membahas budidaya BSF Maggot/ist

Eko Fauzan Adima salah satu pembicara dalam kegiatan Webinar pengolahan sampah organik melalui Black Soldier Fly (BSF) Maggot mengatakan saat ini komunitasnya sedang melakukan pengembangan sampah organic menggunakan BSF.

 Menurutnya penggunaan BSF memberikan keuntungan bagi komunitasnya dalam pengolahan sampah teruitama kompos yang lebih cepat dari biasanya proses memakan waktu 30-40 hari namun penggunaan BSF hanya membutuhkan waktu 2-4 hari saja.

“Belum lagi kita juga bisa menghasilkan pupuk organik cair, sebelum memberi pakan BSF, pakan diperas perasannya lalu kita buat pupuk organic cair, ampasnya kemudian diberikan ke BSF, jadi selain mengolah sampah padat juga dapat mengolah sampah cair,” papar dia.

Selain itu banyak hal yang bisa dilakukan terkait sampah organik. Selain BSF komunitasnya juga mengolah sampah organik menjadi eko enzim,  dimana eko enzim dipergunakan untuk penggunaan pupuk cair.

“Penggunaan BSF dalam pengolahan sampah tidak ada yang terbuang, semua terpakai baik ampas sampah organic padat, sampah cairnya sampai BSF nya digunakan untuk pakan ternak,” kata dia.

Muhammad Jafar Khoerun pembicara lainnya dalam kegiatan Webinar pengolahan sampah organik melalui Black Soldier Fly (BSF) Maggot. Pria lulusan Universitas sebelas Maret Surakarta ini merupakan owner BSF Boyolali dan Minimasyu Farm yang telah berkecimpung di pengolahan BSF maggot selama 1 ½ tahun.

Jafar mengatakan penggunaan BSF dapat menjadi peluang usaha yang berjangka panjang.   Menurutnya banyak pelaku budidaya yang melakukan pengolahan BSF namun tidak mengetahui dan menangkap peluang usaha lainnya.

“Kita harus petakan masalah sesuai kondisi lingkungan misalkan di Kota Tangerang yakni sampah. Berdasarkan data terjadi peningkatan volume sampah di berbagai daerah di Indonesia,’ujarnya.

Jafar mengatakan saat memulai budidaya BSF dirinya pernah di cecar oleh tetangga karena memelihara lalat yang dianggap pembawa penyakit. Diapun menjelaskan bahwa BSF bukan seperti Lalat hijau sebagai vektor penyakit dengan  hinggap di sampah lalu masuk ke rumah rumah dan hinggap kembali ke makanan. Kemudian BSF juga memiliki fase hidup yang singkat rata-rata 7 hari.

“Ini menjadi tantangan bagi pembudidaya, BSF saya pun membutuhkan waktu satu tahun membuka mindset warga dan akhirnya sekarang ikut melibatkan masyarakat dalam budidaya BSF,’ kata dia.(Adit)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.