Kisah Oce, Penggerak Kampung Gerendeng Pulo Peraih Juara PHBS Banten

33
Hoktjoan Wulandjana warga RT 02 RW 09 Kelurahan Gerendeng Kecamatan Karawaci salah satu sosok dibalik keberhasilan Kampung Gerendeng Pulo (Grenpul) sebagai Kampung PHBS./ist

Hoktjoan Wulandjana atau biasa disapan Oce warga RT 02 RW 09 Kelurahan Gerendeng Kecamatan Karawaci salah satu sosok dibalik keberhasilan Kampung Gerendeng Pulo (Grenpul) sebagai Kampung PHBS.

Oce tergerak mengajak masyarakat merubah kampung setelah kampung mereka menjadi salah satu kampung yang berada di pusat Kota penerima program Kotaku atau Kota tanpa kumuh dari Pemerintah pada tahun 2018.

Dalam upaya mengatasi kekumuhan Pemkot Tangerang memulai program PHBS, RW O9 Gerendeng diikutsertakan menjadi peserta tingkat Kota.

Bersama warga lainnya Oce yang sehari-hari bekerja sebagai wiraswasta ini memulai membenahi kampung dengan gerakan menanam pohon dan mengecat lingkungan yang dimulai dari pintu masuk Kampung Gerendeng Pulo.

“Gerakan menanam dan mengecat dilanjutkan dari satu rumah ke rumah lainnya, dengan gerakan itu warga tertarik dari awalnya modal sendiri akhirnya warga tergerak untuk ikut menyumbang dana, semakin hari semakin banyak warga menyumbang  yang kemudian dikelola kembali untuk mengecat dan menanam pohon dirumah rumah lainnya,” papar Oce.

Gerakan tersebut terus dilakukan sampai sehari sebelum penilaian PHBS. Saat itu seluruh warga Kampung turut serta kerja bakti membersihkan lingkungan.

‘Tadinya banyak warga yang ga peduli keluar semua bebersih, mengecat dan menanam pohon memenuhi lorong kampung Grenpul,” ujarnya.

Menanam pohon dan mengecat lingkungan yang digerakkan oleh Oce mengantarkan Kampung Grenpul meraih juara 3 PHBS tingkat Kota Tangerang bahkan turut mewakili Kota Tangerang dalam penilaian di Provinsi Banten.

Upaya tersebut merupakan prestasi yang luar biasa sebab Grenpul kini telah berubah dari sebelumnya kumuh menjadi hijau dan bersih.

Dalam rangka menjaga konsistensi dan semangat warga menjaga lingkungan tetap bersih dan hijau Oce mengagas kegiatan di Kampung Grenpul salah satunya Cap Go Meh.  Kegiatan diadakan karena mayoritas warga setempat merupakan etnis tionghoa.

“Acara berjalan sukses sampai dihadiri oleh Walikota, anggota DPRD dan mengundang warga Tangerang datang ke Kampung Grenpul,” ujarnya.

Kesuksesan Cap Go Meh yang sudah diadakan tiga kali berturut-turut itu menghasilkan dana yang dipergunakan untuk lingkungan salah satunya membuat Gapura selamat datang Grenpul. 

Selain itu Cap Go Meh yang diadakan bertujuan memperkenalkan Grenpul sebagai destinasi wisata Kota Tangerang. Sebab Grenpul memiliki keunikan dari segi mayoritas etnis penduduk yakni tionghoa Tangerang atau Cina Benteng serta kehadiran vihara yang cukup besar di lingkungan Grenpul.

“Pengunjung yang datang ke Grenpul cukup banyak dari dalam maupun luar Kota Tangerang, salah satunya dari Belitung Timur yang mengetahui Grenpul dari internet, mereka kagum dan banyak belajar tentang PHBS dan mengelola lingkungan,’ujar dia.

Tak hanya melakukan penerapan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Warga Kampung Grenpul memiliki kelompok tani yang merupakan salah satu kegiatan rutin warga setempat.

Oce menjelaskan, kelompok Tani memiliki berbagai tanaman organic dan sayuran hidroponik yang hasil panennya dikhususkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari warga Grenpul.

“Sayuran hidroponik diminati warga selain segar dan sehat, sayuran yang dijual ke warga dibawah harga pasar,’ ujarnya.

Oce menambahkan, dari kebun hidroponik yang dikelola oleh warga Grenpul menghasilkan sebuah inovasi berupa jus sayur Pakcoy yang sangat diminati warga . Bahkan minuman tersebut menjadi salah satu ciri khas dari Grenpul terutama saat menjamu tamu dan berbagai kegiatan di Kampung Grenpul.

“Sayuran hidroponik memiliki berbagai kelebihan dibandingkan sayuran biasa seperti kandungan nutrisi, biasanya penderita asam urat anti sayuran kangkung bayam, tapi kalau hasil hidroponik dijamin tidak akan kambuh asam uratnya,’ujar dia.

Adapun jenis tanaman hidroponik yang di panen Kelompok Tani Grenpul berupa bayam, kangkung, sawi, pakcoy sampai jenis tanaman ternama seperti sawi pagoda dan sawi sam hong king.

“Bahkan juga berhasil mengembangkan sayuran kembang kol yang biasanya hanya ditanam di dataran tinggi, ini juga membuat banyak warga kagum kok bisa kembang kol ditanam di Kota Tangerangf,’kata dia.

Upaya Oce menggerakan warga dalam program PHBS bukan tak menemui kendala, Mulai dari merubah mindset warga sampai pendanaan dihadapinya untuk membenahi lingkungan.

‘Yang paling sulit itu merubah mindset warga dari semula acuh ga peduli dan merasa kampungnya sudah bersih untuk bersama-sama membenahi lingkungan menjadi lebih baik lagi, bahkan saya pernah dibilang orang gila ga ada kerjaan,’ujar Oce

Namun sebutan sebagai orang gila tak mengentarkan Oce tetap bergerak mengajak warga membenahi kampung Grenpul. Hingga pada akhirnya warga turut bahu-membahu mensukseskan PHBS di lingkungan.

“Bahkan pemudanya pun turut serta dengan membentuk tim kalong yang kerja bakti saat dini hari pada saat itu persiapan penilaian tingkat provinsi,’ujar dia

Kemudian pendanaan juga menjadi salah satu kendala Oce bersama warga dalam program PHBS di Kampung Grenpul. Saat itu kebingungan mencari bantuan terlebih belum mengenal bantuan CSR apalagi bantuan pemerintah, Oce pun menggalang bantuan dari teman-teman yang sudah sukses.

“Bantuan yang diminta bukan berupa uang tetapi barang yang dikumpulkan dalam satu lokasi,’ucapnya.

Atas upaya Oce dan kepedulian warga, Kampung Grenpul meraih juara 1 PHBS tingkat Provinsi Banten dengan berbagai inovasi seperti adanya Intalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), Satu rumah satu biopori dengan total 131 lubang biopori, vertikal garden pelangi, kelompok tani dan kebun hidroponik  (Adit) 

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.