Lindungi Anak Penyandang Disabilitas pada Masa Pandemi Covid-19

4

Anak Penyandang Disabilitas (APD) merupakan kelompok yang rentan terpapar Covid-19. Mereka sangat bergantung terhadap orangtua maupun pendampingnya untuk membantu memenuhi kebutuhan khususnya, termasuk mendukung mobilitas, gerak dan komunikasi. Deputi Bidang Perlindungan Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Nahar menegaskan diperlukan penanganan yang ekstra dan khusus dari pendamping APD agar mereka dapat terlindungi dari bahaya Covid-19. 

“Mengingat beragamnya kategori disabilitas dan karakter yang melekat pada setiap anak penyandang disabilitas, maka diperlukan penanganan dan pencegahan yang berbeda pula. Perbedaan paling mendasar adalah cara mereka menerima informasi mengenai Covid-19, tidak semuanya bisa diakses dan diserap oleh mereka. Kendala ini membuat mereka tidak memahami secara utuh cara-cara pencegahannya, yang menyebabkan mereka rentan tertular. Oleh karena itu, proses pendampingan, dukungan serta pengasuhan terhadap mereka akan mempengaruhi proses serta prosedur upaya meminimalisir keterpaparan atas COVID 19,” ujar Nahar dalam Webinar Perlindungan Anak Penyandang Disabilitas pada Masa Pandemi Covid-19.


Nahar menambahkan untuk mendukung dan memberikan perlindungan bagi Anak Penyandang Disabilitas, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) bekerjasama dengan Kementerian/Lembaga, dan perwakilan dari organisasi penyandang disabilitas telah mengeluarkan protokol atau pedoman Perlindungan Terhadap Anak Penyandang Disabilitas dalam Situasi Pandemi COVID-19.


 “Protokol tersebut telah disetujui Gugus Tugas COVID-19 dan secara resmi telah diupload pada portal covid19.go.id atau https://covid19.go.id/p/protokol. Seluruh pendamping dan pihak yang terkait dengan Anak Penyandang Disabilitas dapat menjadikan ini sebagai pedoman dalam melindungi anak dari Covid-19,” tambah Nahar. 


Sementara itu, Koordinator Fungsi Peserta Didik Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus Ditjen PAUD, Dikdas, dan Dikmen Kemendikbud, Rika Rismayati mengatakan saat ini Indonesia tengah bersiap mengahadapi masa new normal yang juga harus dipersiapkan dengan baik oleh satuan pendidikan.


 “Prinsip kebijakan pendidikan di masa new normal sama seperti masa pandemi yang tetap menempatkan kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, keluarga, dan masyarakat menjadi prioritas utama dalam menetapkan kebijakan pembelajaran,” ujar Rika.  


“Seperti yang sudah diketahui, Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Agama, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Dalam Negeri telah mengeluarkan Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Tahun Ajaran dan Tahun Akademik Baru di Masa Pademi Covid-19 pada 15 Juni 2020. Hal ini dapat menjadi pedoman untuk menghadapi tahun ajaran dan akademi baru di era new normal,” tambah Rika. 


Berdasarkan data pusat Pusdatin Kemendikbud dan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, kondisi peserta didik terhadap zona resiko kerawanan, jumlah peserta didik penyandang disabilitas di Sekolah Luar Biasa (SLB) yang berada di zona hijau sebesar 4,26 persen artinya masih terdapat sekitar 95,75 persen peserta didik yang masih berada di zona rawan (rendah, sedang, maupun tinggi).


Nahar menuturkan melihat kondisi zona kerawanan peserta didik penyandang disabilitas, memberikan gambaran kepada kita bahwa protokol Kesehatan bagi peserta didik berkebutuhan khusus sangat diperlukan. 


 “Pada masa pandemi, proses pembelajaran bagi peserta didik penyandang disabilitas diharapkan dapat terus berjalan namun kesehatan dan keselamatan peserta didik juga merupakan prioritas yang perlu menjadi perhatian. Untuk itu, berbagai panduan dan protokol dikeluarkan oleh pemerintah untuk mengatasi masalah tersebut,” tutur Nahar.


Lebih lanjut Kepala Sekolah Yayasan Dwituna Rawinala, Budi Prasojo menuturkan terdapat 3 anak disabilitas di Yayasan Dwituna Rawinala yang postif Covid-19.


 “Dari 3 anak disabilitas yang positif Covid-19, kemudian menular ke 3 pendamping mereka. Namun saat ini kondisi mereka sudah negatif dan masih dalam tahap isolasi mandiri. Meskipun dirawat dalam panti, kami tetap menerapkan protokol penanangan Covid-19 yakni dengan menggunakan alat pelindung diri yang lengkap dan menjaga kebersihan panti. Selain itu, yang tidak kalah penting kami memastikan memberikan kenyamanan bagi anak penyadang disabilitas yang terpapar Covid-19, memenuhi semua kebutuhannya, dan memberikan waktu untuk melakukan aktivitas yang menyenagkan,” tutur Budi. 


“Pada awalnya kami sempat bingung untuk menangani kasus tersebut, tapi akhirnya kami memutuskan agar panti menjadi tempat isolasi mandiri anak yang positif ini. Beberapa alasannya antara lain karena; kondisi dirumah tidak memungkinkan penyandangdisabilitas untuk isolasi mandiri; mereka tidak memiliki keluarga sehingga panti sebagai alternatif untuk melakukan isolasi mandiri; kondisi kemandirian anak yang tidak memungkinkan anak untuk bisa dirawat di Rumah sakit; dan pendampingan disabilitas membutuhakan waktu untuk proses beradaptasi dengan lingkungan dan pendamping yang baru,” tambah Budi.


Hadir pula Lia Octoratrisna Orangtua Anak Penyandang Disabilitas yang positif terpapar Covid-19 pada April lalu. Lia menceritakan bagaimana ia dan anaknya berjuang melawan Covid-19 ditengah kondisi anaknya yang menderita Seckel Syndrome atau disabilitas bawaan yang terjadi akibat kelainan genetik yang termasuk ke dalam jenis disabilitas fisik dan intelektual.


“Memang anak berkebutuhan khusus itu lebih rentan terpapar Covid-19. Saat Diva positif itu dia tidak bisa memakai masker, akhirnya saya yang memakai masker jadi harus saya sebagai pendamping yang menjaga jarak dan kebersihan. Dari pengalaman yang saya dapat, saya ingin berpesan kepada seluruh orangtua dan pendamping anak penyandang disabilitas untuk tidak panik dan tetap waspada dengan menjalankan semua protokol kesehatan pencegahan Covid-19,” ujar Lia.(Riz)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.