Oktian Jaya Wiguna, Pemuda Pegiat lingkungan Kota Tangerang

2

Kepedulian terhadap masyarakat dapat dimulai dari lingkungan terdekat. Seperti yang dilakukan Oktian Jaya Wiguna pemuda penggiat lingkungan dari komunitas Benua Hijau Indonesia.

Berawal dari keresahan melihat kondisi lingkungan tempat tinggalnya di RW 07 Perumahan Benua Indah, Kelurahan Pabuaran Tumpeng, Kecamatan Karawaci terdapat permasalahan tempat pembuangan sampah liar yang tak kunjung selesai. Kondisi yang berlarut itu dapat menyebabkan dampak kesehatan bagi warga setempat.

Tergerak untuk membantu menyelesaikannya, Aan sapaan akrabnya memulai berkomunikasi dengan tokoh masyarakat, agama, pemuda setempat untuk bersama-sama mencarikan solusi agar tempat tinggal mereka terbebas dari permasalahan tersebut.

Sejalan dengan upaya menyelesaikan permasalahan sampah liar, Dinas Lingkungan Hidup saat itu memiliki program Kampung Hijau, dimana mengajak kepada masyarakat untuk peduli terhadap lingkungan mulai pemilahan sampah dari rumah.

“Warga mulai gotong royong membersihkan lingkungan sendiri yang didasari pengelolaan sampah menjadi tanggung jawab bersama,” ujarnya.

Upaya bersama yang dilakukan warga, saat ini Lingkungan RW 07 memiliki Tempat Pembuangan Sampah Terpadu 3R (TPST3R), Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), dan Bank Sampah.

Mengantar Meraih Penghargaan Kampung Proklim Nasional

Konsistensi warga RW O7 Kelurahan Pabuaran Tumpeng dalam mengelola lingkungan melalui TPST3R, Bank Sampah dan IPAL mengundang perhatian pemerintah baik Pemkot maupun Pemprov Banten yang melihat adanya potensi kebaikan yang dapat ditularkan ke wilayah lain.

“Pemerintah mendata apa sebenarnya kegiatan yang dapat dinaikan ke tingkat nasional, lalu dimasukan RW 07 dalam penilaian kategori kampung proklim,” ujarnya.

Kampung Proklim merupakan kawasan yang dipersiapkan dalam rangka menghadapi perubahan iklim. Terdapat tiga komponen utama Kampung Iklim meliputi Mitigasi, Adaptasi, dan kelompok masyarakat yang mendapatkan dukungan berkelanjutan.

“Apa yang telah dibangun oleh warga memenuhi komponen perubahan iklim seperti mitigasi dan adaptasi melalui Bank sampah, TPST3R, IPAL, biopori dan lainnya,” ujar dia.

Penilaian yang telah dilakukan mengantarkan Kampung Proklim RW 07 meraih Kampung proklim utama pada tahun 2018. Raihan tersebut merupakan kebanggan atas buah kesadaran dan kerja keras warga setempat yang mengelola lingkungan berdasarkan kebutuhan bukan karena dipaksakan.

“Penghargaan kampung iklim utama yang diraih satu-satunya di Banten, Ini menjadi motivasi warga terus memacu warga untuk mengelola lingkungan serta menularkannya ke lingkungan lainnya,” katanya.

 Membentuk Komunitas Benua Hijau Indonesia

Keberhasilan mengantarkan RW 07 Meraih penghargaan Kampung Proklim utama tingkat nasional, Aan bersama pemuda Benua Hijau terus memperluas upaya kepedulian lingkungan ke wilayah lainnya.

Komunitas Benua Hijau yang berawal dari komunitas kecil di RW 07 kini memiliki anggota pegiat lingkungan dari berbagai wilayah Kota Tangerang yang memiliki kesamaan visi dan misi memperbaiki lingkungan.

“Ada dari Neglasari, Periuk, Cipondoh, akhirnya tergabung dalam pemikiran dan konsep dalam kegiatan  lingkungan yang membuat kita jadi satu komunitas,” ujar Aan.

Kegiatan Lingkungan yang dilakukan komunitas Benua Hijau Indonesia adalah sosialisasi dan kampanye menyadarkan masyarakat terutama terkait pengelolaan sampah. Kegiatan on the street  yang dilakukan seperti saat Car Free Day, event Kota selain itu juga kampanye melalui akun media sosial.

“Kami kampanyekan kepedulian dan kesadaran jangan sampai sampah menjadi yang tidak dipedulikan apalagi seperti saat kegiatan keramaian sehingga menimbulkan banyak sampah berserakan,” ujarnya.

Aktif Kampanye Sampah Plastik

Aan bersama komunitas Benua Hijau konsen dalam kampanye pengelolaan sampah plastik. Menurutnya sampah plastik sampai saat ini masih menjadi isu nasional sebab plastik membutuhkan waktu yang lama agar bisa hancur terurai.

Kampanye sampah plastik merupakan salah satu bentuk kegiatan yang dilakukannya bersama komunitas. Tujuannya mengurangi pengunaan ataupun pemilahan sampah plastik dari rumah agar dapat dimanfaatkan kembali untuk daur ulang.

“Berbeda dengan sampah organik yang sebagian besar masyarakat sudah mengetahui pengelolaannya sehingga dapat menjadi kompos, sampah plastik jangan sampai memenuhi pembuangan sampah karena dapat dikumpulkan dimanfaatkan menjadi daur ulang,” ujar dia.

Sampah plastik yang dipilah dan dikumpulkan dari rumah dapat disedekahkan melalui program sedekah sampah yang diadakan oleh DLH Kota Tangerang. Upaya ini salah satu cara agar sampah plastik dapat dikelola kembali sehingga tidak mencemari lingkungan.(dit)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.