Siloam Hospitals Jambi Edukasi Cara Penanganan Migrain

6
Dokter Spesialis Saraf dari Siloam Hospitals Jambi, dr. Harly. MT Lumbantoruan, Sp.S/ foto istimewa

Jambi – Migrain adalah sakit kepala yang terasa berdenyut, dan biasanya terjadi pada satu sisi kepala saja. Migrain merupakan penyakit saraf, yang dapat menimbulkan gejala, seperti mual, muntah, serta sensitif terhadap cahaya atau suara. Serangan migrain dengan rasa nyeri yang mengganggu dapat berlangsung selama beberapa jam atau beberapa hari.

Menurut hasil penelitian WHO, dari total populasi manusia berusia 18-65 tahun yang melaporkan pernah menderita sakit kepala, sekitar 30 persen, di dominasi wanita adalah penderita migrain.

Dokter Spesialis Saraf dari Siloam Hospitals Jambi, dr. Harly. MT Lumbantoruan, Sp.S., mengatakan, brbagai faktor dapat menyebabkan migrain, baik genetik maupun lingkungan.

“Penanganan untuk penyakit ini adalah melalui kombinasi perawatan mandiri, obat, serta perubahan gaya hidup,” ungkap dr. Harly. MT Lumbantoruan, Sp.S., melalui edukasi secara webinar yang sekaligus bersamaan disampaikan melalui dua aplikasi, zoom dan IG Live, Rabu, 21 April 2021.

Dikatakan Harly, meski penyebabnya masih belum bisa dipastikan, tetapi migrain juga bisa terjadi karena beberapa faktor berikut ini, antara lain terjadi perubahan hormon pada wanita efek samping pil KB atau terapi hormon, pola diet dan konsumsi makanan seperti rasa asin,manis, gurih,kaffein dan alkohol, asap rokok, bau yang menyengat, stress dan depresi, kelelahan, pola dan kualitas tidur.

“Sementara keluhan migrain kerap diikuti dengan tubuh berkeringat, disebagian orang yang terkena merasa badan dingin atau bahkan panas, adanya sakit perut atau diare serta sulit berkonsentrasi,” tutur Harly

Kemudian gejala dan serangan migrain sangat sering terjadi ketika masa pubertas. Gejalanya terbagi dalam empat tahapan, meski tidak semua orang mengalami semua tahap tersebut. pertama prodromal yakni tahapan ini biasanya muncul satu atau dua hari sebelum serangan migrain. Gejala yang terjadi pada tahap ini berupa suasana hati yang mudah berubah, adanya keinginan untuk mengonsumsi makanan tertentu, leher menjadi kaku, menjadi sering menguap, mengalami sembelit, sering buang air kecil, dan merasa haus.

Lalu Aura Tahapan ini biasanya terjadi sebelum atau selama serangan migrain. Gejalanya berupa gangguan penglihatan, seperti misalnya pandangan kabur. Selain itu, pengidap juga mengalami gangguan sensorik, verbal, dan motorik. Setiap gejala akan terjadi secara perlahan, dan bisa bertahan antara 20–60 menit.

Kemudian serangan sakit kepala tahapan ini dapat berlangsung antara 4 hingga 72 jam. Beberapa gejala yang muncul yaitu sakit kepala hanya pada satu sisi, kepala terasa seperti berdenyut atau kesemutan, pening, mual, muntah, dan menjadi sensitif pada suara, bau, cahaya, atau sentuhan.

Selanjutnya Resolusi tahap terakhir ini muncul setelah migrain. Biasanya, resolusi terjadi sekitar 24 jam setelah serangan migrain. Gejala yang terjadi berupa perubahan suasana hati, kelelahan, sakit kepala ringan, kelelahan, dan hipersensitif terhadap suara maupun cahaya.

Adapun dihat dari jenis serangannya, migrain terbagi menjadi tiga, yaitu migrain tanpa aura. Sakit kepala ini terjadi secara mendadak tanpa diawali dengan gejala apapun. Jenis migrain ini paling banyak terjadi, dan terkadang serupa dengan gangguan kesehatan sinusitis.

Migrain dengan aura. Migrain yang terjadi dengan aura diawali dengan gejala tahapan aura sebelum akhirnya terjadi sakit kepala muncul. Migrain dengan aura, tetapi tanpa sakit kepala. Kondisi ini dikenal dengan istilah silent migraine, diawali dengan semua gejala migrain, tetapi tidak disertai dengan sakit kepala.

Diagnosis migrain, menurut Dokter Spesialis Saraf dari Siloam Hospitals Jambi, dr. Harly. MT Lumbantoruan, Sp.S.,didapatkan oleh dokter umum atau dokter spesialis saraf setelah mengetahui riwayat penyakit pengidap beserta keluarga, juga gejala yang muncul.

“Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, biasanya termasuk pemeriksaan kondisi saraf. Untuk memastikan bahwa migrain bukan terjadi karena kondisi lain, turut dilakukan beberapa jenis pemeriksaan lanjutan, yaitu tes darah, olah pindai CT Scan dan Pungsi Lumbal,” pungkas Harly.(dit/ris)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

 

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.