Tingginya Angka Diabetes, Pemprov DKI Jakarta Lakukan Hal ini Demi Turunkan Angka Penderita!

7
Ilustrasi diabetes (Foto: Ist)

Katakota.com – Tidak bisa dipungkiri, masyarakat perkotaan sangat rentan akan masalah diabetes. Salah satu penyebabnya adalah gaya hidup perkotaan yang tidak menunjang kesehatan masyarakatnya.

Sadar atau tidak, dengan mobilitas hidup yang semakin cepat, masyarakat perkotaan malah semakin sempit mendapatkan waktu luang. Bangun pagi, sarapan, lalu berangkat kerja. Setelah itu sampai rumah langsung istirahat. Pola hidup semacam ini yang kemudian membuat manusia menjadi kurang bergerak dan akhirnya masalah kesehatan seperti Diabetes Mellitus meningkat.

Menurut Diabetes Atlas Edisi 8 dari Federasi Diabetes Internasional, diperkirakan ada 10,3 juta orang Indonesia yang akan menderita diabetes mellitus dan angkanya akan bertambah menjadi 16,7 juta jiwa pada 2045. Hal ini berkaitan dengan urbanisasi yang tentunya akan terus berlangsung di perkotaan.

Nah, sebagai upaya konkrit menurunkan angka diabetes ini, Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan bekerja sama dengan Novo Nordisk. “Kita tahu bersama bahwa masalah diabetes menempati peringkat nomor 5 sebagai penyakit tidak menular yang menyerang masyarakat Indonesia dan karena itu kita harus bisa menekan angkanya semakin bertambah,” paparnya saat ditemui di acara penandatangan MoU program “City Changing Diabetes antara Pemprov DKI Jakarta dengan Novo Nordisk” di Balaikota, Jakarta Pusat, Jumat (24/8/2018).

Dengan fakta tersebut sudah menjadi tanggung jawab pemerintah juga untuk bisa menurunkan angka penderita diabetes. Sebab, kebahagiaan penduduk juga dapat dilihat dari bagaimana mereka sehat. “Dengan selalu bahagia, kita semua percaya bahwa akan bisa melawan penyakit,” kata Anies.

Anies juga melanjutkan, dengan semakin sempitnya waktu untuk bergerak, pemerintah akan membuat solusi yang mana nantinya akan membuat masyarakat perkotaan lebih banyak bergerak. Dari bergerak ini kemudian menjadi upaya yang baik untuk mencegah atau menurunkan angka penderita diabetes. Bisa dikatakan sebagai upaya pereventif.

Di sisi lain, dijelaskan Plt Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Khafifah Any, Apt, MARS, Jakarta sebetulnya sudah melalukan beberapa upaya pencegahan diabetes. Sebut saja Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular (Posbindu PTM), Germas, program keluarga sehat, dan beberapa program olahraga di masyarakat.

“Upaya ini tentunya diharapkan bisa menjadi upaya untuk menekan angka penderita diabetes. Yang jelas, kami harapkan upaya preventif dan promotif ini bisa menyasar seluruh masyarakat Jakarta dan dengan adanya CCD, diharapkan akan memaksimalkan upaya ini,” papar Khafifah.

Sedikit informasi, DKI Jakarta merupakan wilayah di Indonesia yang menduduki peringkat 6 sebagai kota dengan penderita diabetes tertinggi. Kota-kota di atas Jakarta yang cukup tinggi angkanya antara lain Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, NTT, dan Yogyakarta. Data ini berasal dari Riskesdas Tahun 2013.

Sementara itu, Senior Vice President Region AAMEO (Afrika, Asia, Middle East and Oceania) Novo Nordisk Frederik Kier menjelaskan bahwa jika melihat dari apa yanv sudah dilakukan di kota lain di dunia yang sudah melakukan CCD ini, solusi bergerak akrif dengan bersepeda menjadi solusi yang bisa dicoba. Hal ini juga yang dilakukan Kopenhagen, Denmark.

“Tapi, menjalankan program itu tidak semudah menjentikkan jari. Perlu analisis yang panjang dan waktu yang cukup juga sampai akhirnya tereaslisasi. Lagipula, tentunya solusi menurunkan diabetes di Jakarta tentunya berbeda dengan negara lain. Makanya, perlu adanya pemetaan yang tepat di masalah ini,” papar Frederik.

Sumber                ; Okezone

Uploader             : Cecep R./Ky

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.