UPJ Gelar Kuliah Umum Dampak Ekonomi Global Terhadap Nilai Tukar Rupiah

60
UPJ Gelar Kuliah Umum Dampak Ekonomi Global Terhadap Nilai Tukar Rupiah,(adit/katakota.com)

Tangsel, Katakota.com– Program Studi Manajemen Universitas Pembangunan Jaya (UPJ) bekerjasama dengan Bank Indonesia (BI) menyelenggarakan kuliah umum tentang Dampak Ekonomi Global Terhadap Nilai Tukar Rupiah pada  beberapa waktu lalu di kampus UPJ Bintaro. Dalam kegiatan turut dihadiri oleh 150 pelajar serta 300 mahasiswa.

Kepala Program Studi Ilmu Manajemen UPJ, Hastuti Naibaho mengatakan, kegiatan bertujuan memberikan pengetahuan tentang perekonomian global. Menurutnya semua masyarakat Indonesia mengetahui bahwa nilai tukar Rupiah (Kurs Transaksi) sangat lemah terhadap dolar saat ini. Berdasarkan data di Website Bank Indonesia, nilai tukar Rupiah terhadap USD pada bulan Januari 2018 sebesar Rp 13,474. Dolar sempat naik di Rp 14,000-an pada bulai Mei tetapi turun kembali pada angka Rp 13,000an di awal Juni.

“Dolar kembali naik sejak bulan Juli sampai dengan bulan November 2018, yaitu mencapai Rp 15,000-an,” ujarnya.

Melemahnya nilai Kurs (rupiah terhadap dolar) memberi dampak negatif terhadap kondisi ekonomi di Indonesia. Dampak negatif ini bukan hanya dirasakan oleh pengusaha yang menggunakan bahan baku impor tetapi juga pada masyarakat umum yang bukan pengusaha.

Hastuti memaparkan, Seorang teman bercerita bahwa pada bulan Januari, beliau meminjam uang dari temannya di Amerika sebesar USD 2,500. Uang yang masuk ke rekeningnya seberar Rp 32,750,000. Bulan Oktober lalu beliau harus melunasi hutangnya USD 2,500 dan jumlah Rupiah yang harus dia transfer sebesar Rp 38,250,00. Beliau harus mengeluarkan tambahan Rp 5,500,00 akibat Kurs Transaksi terhadap Dolar naik.

“Mungkin banyak masyarakat umum lainnya mengalami kondisi yang sama dan bertanya-tanya mengapa pemerintah Indonesia tidak dapat mengatasi masalah melemahnya Kurs Transaksi terhadap mata uang asing. Bahkan mungkin banyak yang menilai bahwa pemerintah gagal melakukan tugasnya. Apakah dugaan-dugaan ini benar,”terang Hastuti.

Pada sistem ekonomi terbuka, transaksi ekonomi terjadi antara satu negara dengan negara lain dalam berbagai bentuk. Transaksi ekonomi internasional ini memiliki dua kategori besar, yaitu (1) flow of goods and services- dalam bentuk Ekspor & Impor dan (2) Flow of Capital– dalam bentuk uang. Meskipun seseorang tidak pernah ke Amerika, tetapi orang tersebut dapat membeli barang-barang yang di produksi oleh perusahaan Amerika atau dapat investasi saham (membeli saham) perusahaan Amerika.

“Ini adalah contoh sederhana tentang sistem ekonomi terbuka. Pengaruh lain dari sistem ekonomi terbuka pada negara yang menganut sistem ini adalah nilai Kurs Transaksi (Exchange Rate),” kata dia.

Lanjutnya, Indonesia menganut sistem ekonomi terbuka. Pada negara yang menganut sistem ekonomi terbuka, maka Exchange Rate dapat dipengaruhi oleh Kebijakan Fiskal dan Kebijakan Moneter.

Dijelaskannya, Kebijakan fiskal sebuah negara, seperti meningkatkan pengeluaran pemerintah atau pemotongan (penurunan) pajak akan menyebabkan berkurangnya jumlah uang diinvestasikan ke luar negeri. Hal ini menyebabkan berkurangnya mata uang negara tersebut dikonversikan ke mata uang negara lain (foreign currency) sehingga Kurs mata uang negara tersebut meningkat atau semakin tinggi (kuat). Kenaikan nilai mata uang negara tersebut akan meningkatkan kebutuhan. Kebijakan negara lain menurunkan pajak atau menaikkan suku bunga akan menyebabkan investor akan menarik uangnya dari investasi asing sehingga supply uang untuk transaksi pertukaran mata uang asing berkurang dan Exchange Rate meningkat.

Sementara, Kebijakan moneter adalah kebijakan tentang suplai uang (money supply). Peningkatan money supply akan menekan suku bunga domestik (domestic interest rate), dan arus modal keluar karena investor akan selalu mencari higher return. Upaya ini dapat mencegah tingkat suku bunga jatuh di bawah tingkat suku bunga dunia dan juga memberikan dampak terhadap Exchange Rate.

“Investasi keluar negeri membutuhkan konversi mata uang domestik ke mata uang asing. Arus keluar modal akan meningkatkan suplai mata uang domestik di pasar uang untuk pertukaran mata uang. Akibatnya mata uang domestik akan mengalami depresiasi nilai atau Exchange Rate akan turun. Negara yang transaki barang/jasa serta investor nya banyak bersumber dari negara asing seperti Indonesia akan rentan terhadap naik-turunnya Exchange Rate,” ujarnya lagi.

“Ketika negara yang menjadi sumber investasi terbesar membuat perubahan radikal terhadap kebijakan fiskal dan moneter nya maka Kurs Transaksi (Exchange Rate) kita akan tidak stabil,”sambung Hastuti.

Sementara Diana Permata Sari selaku Deputi Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia, menjelaskan bahwa ketidakpastian kebijakan ekonomi di Amerika Serikat mendorong ketidakpastian di pasar keuangan global dan berdampak pada penguatan dolar Amerika. Hal ini menyebabkan para investor menarik dananya dari emerging market seperti Indonesia dan menempatkan dananya di tempat yang dianggap aman, khususnya di Amerika Serikat.

Menurutnya, Strategi kebijakan Amerika Serikat ini menyebabkan penguatan nilai tukar dolar dan memberi dampak pada melemahnya nilai Rupiah. Upaya yang dapat dilakukan adalah menaikkan suku bunga untuk menarik kembali modal asing.

“Bank Indonesia telah membuat kebijakan-kebijakan untuk memastikan perekonomian Indonesia tetap kuat menghadapi resiko eksternal akibat ketidakpastian ekonomi global yang sangat tinggi, yang salah satunya melalui kebijakan penetapan suku bunga,”ujarnya.(dit/ris)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.