Wahana Visi Indonesia : Perlindungan Anak di Masa Pandemi Perlu Perhatian Serius

12
Tim Wahana Visi Indonesia saat memberikan pembelajaran kepada pelajar/ist

Terjadinya penganiayaan oleh seorang ibu, LH di Larangan, Kota Tangerang kepada anaknya sendiri yang berusia 8 tahun hingga meninggal dunia karena kesulitan memahami pelajaran menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Peristiwa ini membuka mata bahwa persoalan perlindungan anak di masa pandemi Covid-19 merupakan hal yang serius dan harus menjadi perhatian semua pihak.

Ketua Tim Perlindungan Anak Wahana Visi Indonesia (WVI), Emmy Lucy Smith mengatakan, peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa kekerasan anak nyata terjadi dan semakin meningkat di masa pandemi Covid-19 hingga mengakibatkan anak meninggal dunia.

“Peristiwa yang menyedihkan ini mestinya dapat dijadikan momentum bagi kita semua, baik orangtua, pihak sekolah dan pemerintah untuk lebih memberi perhatian kepada upaya-upaya perlindungan anak di masa pandemi COVID-19 ini,” kata Emmy dalam keterangannya Selasa (15/9).

Menurutnya, orangtua pada masa pandemi COVID-19 ini memiliki peran lebih banyak dan lebih intens dalam mendampingi anak belajar, Tugas mendidik, mengasuh dan mendampingi anak bukan hanya menjadi urusan ibu saja, namun juga menjadi urusan ayah. Oleh karena itu, perlu ada dukungan kepada orangtua/pengasuh, dalam hal ini ayah dan ibu perlu untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan untuk melakukan pengasuhan tanpa kekerasan, pengasuhan dengan cinta.

Kerja sama dan komunikasi pihak sekolah dan orangtua dalam mendampingi anak belajar perlu dilakukan secara intensif. Salah satu hal yang perlu ditekankan oleh pihak sekolah kepada orangtua ketika mendampingi anak belajar di rumah adalah mendidik anak tanpa kekerasan (disiplin positif).

“Pihak sekolah perlu mendukung orangtua untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan orangtua agar dapat mendampingi anak belajar tanpa kekerasan,”ujarnya.

Lanjutnya, hasil Kaji cepat WVI mengenai Dampak Pandemi Covid-19 pada Anak dan Rumah Tangga di daerah terdepan, terluar dan tertinggal (3T) menemukan bahwa 62% rumah tangga mengaku dapat menangani situasi dalam kendali penuh, sementara 28,7% rumah tangga hanya bisa menangani sebagian.

“Pengasuh perempuan menunjukkan kapasitas yang lebih baik dalam menangani situasi menggunakan pengasuhan positif (64%) dibandingkan dengan pengasuh laki-laki (55%),”ujarnya.

Ketua Tim Pendidikan WVI Mega Indrawati menyebutkan, orangtua/pengasuh tidak siap mengganti tanggung jawab sebagai guru atau untuk mendukung anak-anak dalam belajar saat melakukan kegiatan mata pencaharian pada saat yang sama. Pengasuh yang memiliki tingkat pendidikan formal rendah memiliki kesulitan yang lebih besar mendukung anak-anak dengan belajar di rumah. Akibatnya, beberapa anak mengalami kekerasan di rumah, dengan 61,5% mengalami teriakan dan 11,3% mengalami hukuman fisik.

“Orangtua dan anak sama-sama terisolir dan beraktivitas dalam kondisi tidak ideal. Tidak hanya menimbulkan tekanan pada anak, tidak semua orangtua memiliki kapasitas mengajar untuk materi pelajaran, memiliki waktu dan cukup kesabaran selama proses belajar bersama anak,” tutur Mega.

Hal ini berpotensi menempatkan orangtua ke dalam kondisi rawan secara sosial dan emosional. Oleh karena itu, Mega menyarankan agar sekolah dan pemerintah memiliki perhatian dan program khusus yang mendukung orang tua tidak hanya untuk kepentingan akademis, namun juga dukungan psikososial kepada orangtua.

“Orangtua yang memiliki kondisi psikosial yang baik, akan dapat menjalankan perannya mendampingi anak dengan baik,”katanya.(did/rs)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.