Tangerang,Katakota.com-Sebagai petahana yang akan maju kembali menjadi Walikota Tangerang, Arief R Wismansyah tetap harus memilih wakil secara tepat. Selain untuk mendongkrak suara, tentu saja agar pendampingnya bisa mengimbangi dan mendukung kinerjanya ketika kelak terpilih.
Pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Adi Prayitno mengatakan, sebagai petahana, sebaiknya Arief lebih baik mengambil wakil dari kalangan birokrat. Akan tetapi birokrat yang dimaksud adalah birokrat yang mempunyai akseptabilitas (penerimaan) dan integritas. “Karena untuk mengamankan kinerja-kinerja Pak Arief tentu saja,” ujarnya, Senin (28/8/2017)
Dengan demikian, kelak Arief bisa lebih fokus membangun Tangerang. Tapi ia mengingatkan bahwa birokrat yang dipilih adalah birokrat profesional.
“Dia harus punya profesionalisme dan yang penting berintegritas,” ujarnya. Sebab bagaimana pun ujarnya wakil lah yang memegang ‘dapur’ pemerintahan.
Namun Adi mengingatkan untuk birokrat yang dipilih adalah yang selevel dan menghindari birokrat senior. “Nanti kalau memilih yang senior takutnya malah Pak Arief yang diunderestimate, takutnya orang yang memegang kendali adalah orang nomor dua, inikan sudah sering terjadi. Misalnya waktu Pak SBY dan Pak JK, justru yang dominan kan Pak JK,” ucapnya.
Dengan kata lain, dalam pemerintahan jangan sampai ada dua matahari kembar. Terlebih sejauh ini, ujarnya sebagai kandidat Arief sudah leading dibanding nama-nama yang muncul lainnya.
“Karenanya dengan momen seperti itu, Pak Arief harus mulai memikirkan kinerja di periode mendatang,” jelasnya.
Ditanya, terkait representasi kewilayahan Tangerang timur dan barat yang selama ini terlihat, menurut Adi, jika memang ada lebih baik. “Tapi saat ini hal itu dalam proses politik elektoral kita sejatinya tidak terlalu berpengaruh,” paparnya.
Isu Putra Daerah Sudah Tidak Relevan
Sementara, pengamat politik dari UPH, Dr Emrus Sihombing menilai, isu politik primordial seperti putra daerah atau bukan putra daerah juga sudah tidak relevan dalam proses pemilukada di Kota Tangerang.
“Saya kira sekarang kondisinya Kota Tangerang sudah multi kultur, Kota Tangerang jadi tidak jauh berbeda dengan Jakarta, jadi putra daerah atau bukan putra daerah tidak terlalu penting,” jelasnya.
Katanya alangkah baiknya bila kandidat yang dipilih oleh Arief adalah orang-orang yang bisa merangkul semua lapisan masyarakat. “Kalau saya sarankan adalah, ambil saja tokoh agama. Tapi dengan catatan, tokoh agama ini yang diterima semua lapisan masyarakat serta tentu saja harus teruji dan berintegritas. Kan bisa saja, dia tokoh agama A, tetapi dia diterima oleh seluruh lapisan masyarakat,” ujarnya.
Dengan kata lain, Arief bisa memilih kandidat tokoh agama yang inklusif (terbuka). “Dengan dipilihnya kandidat berlatar belakang agama yang inklusif tersebut, saya rasa kontak sosialnya akan lebih mudah,” tandasnya. (ACW)



























