Pemuda Generazi Z Buka Suara di Hadapan Djarot Syaiful Hidajat

16

Tangerang – Padepokan Kebangsaan Karang Tumaritis menggelar Doa untuk Bangsa di tengah pandemi COVID-19 yang dibawakan oleh para tokoh pemuka agama. Acara dihadiri para pemuka agama dari 5 agama resmi dan 1 aliran kepercayaan di Indonesia serta elemen-elemen perwakilan dari ANSOR PWNU. Tangerang, Sabtu (29/5).

Pengasuh Padepokan, Ananta Wahana, menjelaskan bahwa acara doa bersama ini ditujukan untuk bangsa dan rakyat Indonesia yang sedang berjuang dengan pandemi. Ananta juga menyebutkan bahwa acara doa ini juga dimaksudkan sebagai persembahan untuk menyambut Bulan Bung Karno yang akan diselenggarakan sepanjang Bulan Juni nanti.

“Selain acara doa bersama, juga di selenggarakan Kursus Pancasila bagi kaum muda-mudi. Djarot Syaiful Hidajat, yang sekarang menjadi Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Ideologi dan Kaderisasi menjadi narasumber kunci dalam Kursus Pancasila ini,”kata Ananta.

Kursus Pancasila menjadi inti perhelatan di Padepokan Kebangsaan Karang Tumaritis pada Sabtu siang. Doa Bersama untuk Bangsa dan Kursus Pancasila yang dihadiri oleh perwakilan warga dari berbagai latar belakang serta lapisan sosial ini menjadi pengingat bagi generasi muda memasuki Bulan Bung Karno di Bulan Juni, sehingga generasi muda tidak lupa akan akar sejarah dan fondasi ideologi negerinya sendiri,

Ananta melanjutkan, kursus Pancasila dibuka oleh perwakilan dari pemuda Generazi Z, Abraham Garuda Laksana.
Dalam kata sambutannya Abraham Garuda Laksana yang akrab dipanggil Abe ini berbicara mengenai Blackberry dan Nokia yang dulu sempat menjadi jawara teknologi tapi saat ini ternyata tidak terdengar lagi Namanya karena kalah dilibas oleh Android dan iPhone.

Ia memberikan perbandingan itu untuk menunjukkan bagaimana nama besar Indonesia di masa lalu jangan sampai hilang semerbaknya dan sirna begitu saja, apalagi jika Indonesia gagap mengadaptasi perubahan zaman dan terlambat merangkul Generasi Z ke dalam politik.

Djarot Syaiful Hidajat memuji keberanian dan pilihan politik pemuda seperti Abraham Garuda Laksana. Djarot Syaiful Hidajat bahkan menolak jika dirinya disebut maha-guru Pancasila, sebab dia sendiri masih senantiasa belajar bagaimana mempraktikkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di tengah pandemic COVID saat ini.

“Betapa pentingnya pertanyaan Bung Karno di hadapan Dokuritsu Junbi Chosakai, yaitu Indonesia Merdeka itu dasarnya apa. Pertanyaan inilah yang kemudian membawa pada penemuan Pancasila yang digali dari tradisi kebudayaan Indonesia yang kaya dan tua. Maka, Pancasila merupakan fondasi Indonesia yang merdeka dan tidak boleh diabaikan oleh generasi muda,”terang Djarot.

Ia menegaskan bahwa ke depannya, untuk melawan ideologi-ideologi lawan yang menyusup dan mempengaruhi alam pikir anak-anak muda seperti itu, generasi muda harus mulai memantapkan posisi ideologis mereka dengan mendalami serta mempraktikkan langsung Pancasila di tengah masyarakat. (Eky/Katakota)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.