Codero, lembaga pelatihan Coding dan Robot di Tangerang Selatan Banten melakukan kerjasama dengan STEM Academy Malaysia untuk pengembangan potensi digital anak – anak sebagai pencipta teknologi.
“Anak-anak diajak untuk tidak sekadar menjadi pengguna smartphone atau game, tetapi menjadi pencipta aplikasi, solusi, dan inovasi baru. Bayangkan jika ribuan anak di seluruh Asia Tenggara terinspirasi untuk menciptakan teknologi yang bermanfaat – dampaknya akan sangat luar biasa bagi masa depan kawasan ini,” kata Head of Unit Codero Indonesia Arif di Tangerang Sabtu.
Arif mengatakan kolaborasi antar negara ini untuk melatih keberanian anak – anak dan menciptakan generasi yang inovatif, berani dan menumbuhkan kesiapan pada cepatnya kemajuan teknologi
Apalagi di era digital seperti sekarang, kemampuan coding bukan lagi keahlian tambahan, melainkan bekal wajib untuk masa depan. Maka itu kolaborasi ini sebagai gerakan pendidikan digital yang ingin menghidupkan kembali semangat belajar teknologi sejak dini.
“Dengan menggandeng sekolah, komunitas, dan institusi pendidikan dari berbagai negara di Asia Tenggara, kami ini menyatukan, menginspirasi dan mengembangkan potensi digital generasi muda di kawasan ASEAN,” ujarnya.
Mr Singgih dari Codero Indonesia menambahkan sebagai langkah nyata kolaborasi yang dilakukan adalah dengan menggelar ASEAN Coding Competition 2025 yang diikuti 11 negara dengan total 300 peserta pada bulan April 2025 lalu.
Adapun 11 negara yang terlibat yakni Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Philipana, Brunei Darussalam, Myanmar, Laos, Kamboja, Vietnam dan Timor Leste.
“Event tersebut menjadi wadah anak – anak se Asia Tenggara menunjukan kreativitas dan mengasah kemampuannya dalam bidang pendidikan teknologi terutama Coding yang saat sekarang sedang happening,” ujarnya.
Ia menambahkan kompetisi coding bergengsi yang dikhususkan untuk anak-anak usia 7–12 tahun di seluruh Asia Tenggara tersebut menyediakan hadiah total 100 dolar Amerika dan telah berhasil memilih 12 pemenang dari perwakilan negara.
Berbeda dari lomba pada umumnya, kompetisi ini mengajak anak-anak bukan sekadar untuk ikut serta, tetapi berkreasi dan memecahkan masalah nyata lewat bahasa pemrograman visual yang mudah dipahami yaitu Scratch.
“Platform ini memungkinkan mereka membuat game, animasi, hingga simulasi interaktif hanya dengan drag-and-drop tanpa harus menguasai coding rumit,” katanya.

Nurul Ramziah Bt Olly Mohamadhu sebagai Juri & Pendidik dari STEM Academy Malaysia menambahkan kreativitas dan kepercayaan diri yang ditunjukkan di ASEAN Scratch Competition benar-benar menginspirasi.
Kerjasama yang dilakukan Codero dan STEM Academy lewat kompetisi adalah investasi jangka panjang. Saat anak-anak mulai mengenal coding dan tidak hanya belajar cara membuat program tetapi belajar cara berpikir sistematis, menyusun logika, menyelesaikan masalah, dan bekerja sama.
“Inilah bekal yang akan mereka bawa saat tumbuh dewasa dan berperan dalam dunia kerja yang sangat kompetitif,” katanya. (ANT)


























