Geser Taylor Swift, Lucy Guo jadi Miliarder Termuda yang Merintis Usaha Sendiri

4
Belakangan, nama Lucy Guo tengah naik daun lantaran mengalahkan Taylor Swift dengan menjadi miliarder wanita termuda di dunia yang merintis usahanya sendiri. Menurut Forbes, pebisnis 30 tahun ini telah mengumpulkan kekayaan senilai US$1,25 miliar melalui perusahaan rintisan AI dan teknologinya, Scale AI. 
Sebelumnya, Taylor Swift telah menyandang gelar tersebut sejak ia dinobatkan sebagai miliarder pada akhir tahun 2023. Kini, Swift dan Guo merupakan dua dari enam miliarder wanita di seluruh dunia yang merintis usahanya sendiri dan berusia di bawah 40 tahun. Selengkapnya, berikut beberapa hal menarik seputar Lucy Guo.
Dikenal sebagai sosok pekerja keras
Foto: instagram.com/guoforit
Lucy Guo lahir pada tanggal 14 Oktober 1994, dan dibesarkan di Fremont, California, oleh orang tua imigran Tionghoa. Guo diketahui memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan memulai perjalanan kewirausahaannya sejak dini.
Saat masih kecil, Guo menjajaki berbagai pekerjaan sampingan, mulai dari menjual kartu Pokémon hingga membangun situs web streaming palsu yang menyisipkan iklan. Di bangku sekolah, ia menghasilkan pendapatan secara online menggunakan PayPal dan permainan seperti Neopets dan RuneScape, sembari belajar sendiri cara membuat kode. 
Putus kuliah hingga magang di perusahaan bergengsi
Foto: instagram.com/guoforit
Setelah lulus, Guo mendaftar di Carnegie Mellon University, mempelajari ilmu komputer dan interaksi manusia-komputer. Merasa pendidikan kurang menarik, ia kemudian putus kuliah setelah diterima di Thiel Fellowship, program kompetitif yang membayar USD 10.000 kepada kaum muda untuk membangun sesuatu yang baru.
Tak lama, ia magang di Facebook dan Snapchat, dan akhirnya bergabung dengan Quora, tempat ia bertemu dengan Alexandr Wang. Mereka kemudian mendirikan Scale AI pada tahun 2016, yang dengan cepat berubah menjadi perusahaan AI yang berkembang pesat.
Dua tahun berjalan, Guo memilih keluar dari Scale lantaran terjadi perbedaan visi dengan rekan pendirinya. Meski begitu, ia tetap memiliki hampir 5 persen ekuitas di perusahaan tersebut, yang menambah lebih dari satu miliar dolar atas namanya di atas kertas ketika valuasi Scale melonjak menjadi USD 25 miliar pada tahun 2025.
Langkah besar setelah meninggalkan Scale AI
Setelah meninggalkan Scale AI, Guo meluncurkan Backend Capital, sebuah perusahaan ventura yang mendukung para insinyur berbakat. Dia juga mendirikan Passes, sebuah platform yang dirancang untuk membantu kreator memonetisasi hubungan mereka dengan penggemar. Hal yang membedakan perusahaan ini dari perusahaan sejenisnya, yakni integrasinya dengan teknologi AI.
Passes mengembangkan avatar AI yang mereplikasi kreator di dunia nyata, sehingga penggemar dapat berinteraksi dengan representasi digital dari kepribadian favorit mereka. Melansir Business Insider, Guo menyebut bahwa perusahaan barunya telah mengumpulkan lebih dari USD 66 juta dalam pendanaan, termasuk putaran Seri A senilai USD 40 juta pada tahun 2024.
Dihadapkan kritik dan kontroversi
Foto: instagram.com/guoforit
Meski sukses, Guo tak luput dari kritik dan kontroversi. Dalam beberapa bulan terakhir, Passes menghadapi kritik atas praktik moderasi kontennya, termasuk tuduhan serius tentang konten di bawah umur yang lolos dari pengawasan. Sementara Guo dan timnya telah membantah klaim tersebut dan menerapkan alat moderasi bertenaga AI, pengawasan justru semakin intensif. Lucy Guo menghadapinya dengan teguh, menekankan transparansi dan penggunaan teknologi untuk mencegah penyalahgunaan.
Source : www.beautyjournal.com by Levi Larassaty

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.