Kampung iklim larangan selatan ubah kumuh sedang menjadi hijau

17
Kampung iklim Kelurahan Larangan Selatan

Kampung Iklim adalah lokasi setingkat Rukun Warga (RW) yang masyarakatnya telah melakukan upaya penyesuaian dan penurunan dampak perubahan iklim secara berkesinambungan.

RW 04 Kelurahan Larangan Selatan, Kecamatan Larangan yang juga meraih penghargaan kampung iklim tahun 2020 dari KLHK itu melaksanakan program kampung iklim dengan turut memanfaatkan lahan tidur yang ada disekitar permukiman yang padat penduduk untuk penghijauan.

Warga menanam berbagai tanaman produktif serta Tanaman Obat Keluarga (TOGA) sehingga hasil panennya dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan keluarga serta diolah menjadi berbagai produk makanan dan minuman sehingga meningkatkan perekonomian masyarakat.

“Ada kangkung, tomat, cabai, terong, oyong, kenikir, pokcoi, sawi, timun, jahe, kunyit hasil panen dibagikan dan dikelola kembali salah satunya membuat minuman jahe instan, minuman kunyit asam dan sambal,” ujar Ketua RW 04 Muhamad Dahlan.

Selain penghijauan, warga juga melakukan kegiatan pemanfaatan limbah dan sampah agar menjadi barang yang berguna dan bernilai ekonomis. “Sampah dirubah menjadi pupuk, minyak goreng bekas menjadi lilin dan lainnya,” ujar dia.

Sebagai kawasan permukiman yang pernah ditetapkan kumuh sedang membuat masyarakat di RW 04 Kelurahan Larangan Selatan Kecamatan Larangan mengikuti program penataan lingkungan dari Pemkot Tangerang.

Mulai dari PHBS, Hatinya PKK sampai dengan kampung iklim secara konsisten diikuti warga setempat. Hasilnya lingkungan mampu meraih penghargaan baik tingkat Kota maupun nasional, Bahkan RW 04 kerap dikunjungi PKK dari berbagai daerah yang melakukan studi banding Hatinya PKK.

“Penghargaan kampung iklim dari KLHK membuktikan bahwa warga RW 04 konsisten menjaga lingkungannya, dari PHBS tak berhenti tetapi terus berkembang ke program lainnya,” kata Dahlan.

Menurutnya, program kampung iklim bertujuan membuat lingkungan bersih, nyaman, hijau dan bebas banjir. Warga RW 04 mewujudkannya dengan melaksanakan gotong royong dan bersinergi dengan Pemerintah maupun swasta.

“Selanjutnya warga akan memperluas lahan KWT serta menambah jumlah lubang biopori di lingkungan yang bertujuan meningkatkan resapan air saat hujan, saat ini ada 15 lubang biopori besar di RW kami,” katanya.(Adit)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.