Oleh : Eko Wahyu Setyobudi, mahasiswa Universitas Pamulang (Unpam)
Menjadi mahasiswa aktif di Universitas Pamulang (UNPAM) bukan hanya soal datang ke kelas, duduk manis, dan mengerjakan tugas. Banyak dari kami, termasuk saya, memilih jalan yang lebih kompleks: kuliah sambil aktif berorganisasi, sambil tetap menjaga kehidupan pribadi agar tidak hancur-hancuran.
Terkadang saya merasa seperti sedang memegang tiga bola sekaligus tugas kuliah, kegiatan organisasi, dan kehidupan pribadi yang juga butuh perhatian. Dan tantangannya adalah: semua bola itu tidak boleh jatuh.
Di UNPAM, saya bersyukur karena sistemnya cukup fleksibel. Jadwal kelas bisa dipilih, ada kelas malam, bahkan beberapa dosen juga cukup terbuka soal tugas jika kita aktif berkomunikasi. Tapi walaupun kampus mendukung, tetap saja kuncinya ada di diri sendiri: bagaimana saya bisa membagi waktu dengan bijak.
Saya pernah berada di titik di mana semuanya menumpuk. Deadline tugas datang bersamaan dengan jadwal rapat organisasi. Di saat yang sama, keluarga juga butuh saya hadir ada momen penting di rumah yang tidak bisa saya abaikan. Di sinilah saya sadar bahwa manajemen waktu bukan cuma tentang bikin jadwal, tapi tentang bikin keputusan.
Saya belajar membuat prioritas. Apa yang paling mendesak? Apa yang bisa ditunda tanpa merugikan orang lain? Saya mulai menggunakan tools sederhana: kalender digital, sticky notes, bahkan alarm di HP bukan lagi cuma pengingat bangun pagi, tapi juga pengingat “kerjain tugas ini sekarang juga.
Yang paling sulit justru menjaga agar waktu pribadi tidak tersingkir. Saya pernah merasa kehilangan diri sendiri karena terlalu sibuk jadi “orang sibuk.” Tugas numpuk, kegiatan jalan terus, tapi saya sendiri kelelahan, mood menurun, dan semangat perlahan memudar. Akhirnya saya paksakan satu hari dalam seminggu untuk rehat total tidak menyentuh laptop, tidak ikut rapat, hanya untuk diri sendiri. Ternyata itu menyegarkan.
Menjalani semua ini mengajarkan saya satu hal penting: waktu bukan untuk diatur, tapi untuk dipilih dengan sadar. Kita tidak bisa mengendalikan semua yang datang, tapi kita bisa memilih mana yang kita prioritaskan, dan mana yang bisa dilepas.
Banyak teman saya di UNPAM yang juga menjalani rutinitas padat ada yang sambil kerja, sambil organisasi, bahkan ada yang sudah berkeluarga. Dari mereka saya belajar bahwa setiap orang punya cara masing-masing untuk menyeimbangkan hidupnya. Tidak ada rumus baku, tapi ada satu kesamaan: mereka semua belajar bertanggung jawab.
Manajemen waktu bukan tentang menjadi superman. Tapi tentang menyadari kapasitas diri, menetapkan batas, dan tahu kapan harus jalan, kapan harus istirahat.
Dan buat saya, menjadi mahasiswa aktif di UNPAM bukan sekadar mengejar IPK. Tapi juga tentang bagaimana saya belajar hidup di tengah tekanan, tuntutan, dan kesibukan, saya belajar bagaimana tetap menjadi diri sendiri yang sehat, waras, dan bertumbuh.


























