ASTI Kukuhkan Pengurus 2026-2030, Perkuat Profesionalisme Terapis Spa

47

Perkumpulan Asosiasi Spa Terapis Indonesia (ASTI) mengukuhkan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) ASTI periode 2026-2030. Kepengurusan baru ini membawa agenda penguatan organisasi, kompetensi, dan profesionalisme terapis spa dan wellness Indonesia.

Pengukuhan dilakukan Direktur Kursus dan Pelatihan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Dr Yaya Sutarya, S.Pd., M.Pd., di Gadespace Kebon Nanas, Jakarta Timur, Jumat (4/9/2026).

Dalam pelantikan tersebut terpilihlah Susiana Hendro sebagai Ketua Umum DPP ASTI periode 2026-2030. Ia didampingi Emma Octavianna Puspasari sebagai Sekretaris Jenderal dan Desi Indarini sebagai Bendahara Umum.

Susiana mengatakan pengukuhan kepengurusan baru menjadi awal komitmen ASTI untuk memperkuat organisasi sekaligus meningkatkan martabat profesi terapis spa dan wellness Indonesia.

“Pengukuhan hari ini menjadi awal dari komitmen kita bersama untuk menyatukan, memberdayakan, dan mengangkat martabat profesi terapis Spa dan Wellness Indonesia,” kata Susiana.

ASTI menargetkan terapis spa Indonesia memiliki kompetensi yang mampu bersaing di tingkat global. Organisasi ini juga mendorong pengembangan wellness Indonesia yang memadukan standar internasional dengan kearifan lokal Nusantara.

“Untuk mencapai target tersebut, ASTI menyiapkan empat pilar program kerja, yakni pendidikan dan pelatihan, penguatan organisasi, hukum dan perizinan, sertifikasi, akreditasi, penelitian dan pengembangan serta humas, hubungan luar negeri dan sosial budaya,” jelasnya.

Program tersebut mencakup penguatan kurikulum, sertifikasi Continuous Professional Development (CPD), peningkatan standar kompetensi, perluasan organisasi hingga penguatan kemitraan dengan berbagai lembaga.

ASTI juga membentuk Departemen Wellness dengan sejumlah fokus, di antaranya physical wellness, spiritual wellness, emotional and intellectual wellness, sound therapy, beauty and anti-aging, serta terapi nutrisi dan jamu.

Susiana mengatakan ASTI tidak ingin sekadar mengikuti perkembangan wellness global. Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan tradisi yang dapat dikembangkan menjadi identitas wellness khas Nusantara.

“Indonesia tidak perlu mengimpor wellness, kita hanya perlu menggali kekayaan wellness yang sudah kita miliki,” tegasnya.

ASTI menyebut pengembangan wellness berbasis kearifan lokal akan menjadi salah satu fokus kepengurusan 2026-2030. Konsep tersebut akan dikembangkan melalui pendidikan, sertifikasi, penelitian, dan promosi wellness Indonesia.

ASTI juga akan memperkuat kolaborasi dengan kementerian dan lembaga terkait, termasuk dalam pendidikan, sertifikasi, pengembangan kompetensi, penelitian, serta penguatan citra profesi terapis spa.

Melalui kepengurusan baru ini, ASTI menargetkan organisasi yang lebih solid dan profesional sekaligus meningkatkan daya saing terapis spa Indonesia di tingkat global. (Agu)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.