Dari Dusun ke Panggung Nasional: Perjalanan Tenun Iban Bersama Kawan Lama

3

Dalam rangka memperingati 70 tahun kontribusinya bagi masyarakat Indonesia, Kawan Lama Group melalui Yayasan Kawan Lama mempersembahkan program Aram Bekelala Tenun Iban.

Program ini menjadi wujud nyata komitmen perusahaan dalam mendukung pelestarian budaya, meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

Nama Aram Bekelala Tenun Iban berarti “Mari berkenalan dengan Tenun Iban”, yang menjadi ajakan untuk memperkenalkan, merawat, dan mempromosikan warisan budaya masyarakat Dayak Iban yang diwariskan turun-temurun selama ratusan tahun.

Kapuas Hulu sendiri dikenal sebagai wilayah kaya budaya dan alam, serta telah diakui dunia sebagai Cagar Biosfer oleh UNESCO sejak 2018.

Status ini menunjukkan kemampuan masyarakat setempat dalam menyeimbangkan konservasi alam, pelestarian budaya, dan pengembangan ekonomi berbasis komunitas.

Namun, tantangan besar masih dihadapi masyarakat Dayak Iban: terbatasnya akses komunikasi, transportasi, pendidikan, serta minimnya infrastruktur yang memadai.

Kesulitan memasarkan kain tenun dan produk lokal juga memaksa banyak perempuan untuk meninggalkan kampung halaman dan menjadi tenaga kerja di luar negeri (TKI), yang berpotensi mengancam kelestarian budaya tenun Dayak Iban.

Dok. Ricky Martin / National Geographic Indonesia

 

Melalui Aram Bekelala Tenun Iban, Yayasan Kawan Lama menghadirkan program komprehensif yang menyasar empat dusun di Kapuas Hulu, yaitu Dusun Lauk Rugun, Mungguk, Pulan, dan Sungai Utik.

Sebanyak 20 perempuan penenun dibekali pelatihan intensif mengenai peningkatan kualitas tenun, teknik pewarnaan alami dari tanaman hutan setempat, edukasi desain, nilai produk, manajemen usaha, hingga strategi pemasaran.

 

Pelatihan ini dilaksanakan dengan metode training of trainers (TOT), bekerja sama dengan Cita Tenun Indonesia yang berperan penting dalam meningkatkan keterampilan teknis dan memperkaya motif kain tenun.

Selain itu, desainer Wilsen Willim turut berkolaborasi untuk mengadaptasi motif-motif tenun menjadi koleksi ready-to-wear yang sesuai dengan tren mode urban.

Koleksi ini akan diperkenalkan di panggung fashion show nasional, membuka kesempatan bagi karya para penenun untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Produk-produk tenun juga akan dipasarkan melalui Pendopo, rumah kurasi produk lokal milik Kawan Lama Group, serta kanal omnichannel ruparupa, sehingga lebih mudah diakses masyarakat luas.

 

Dok. Ricky Martin / National Geographic Indonesia

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.