Lari Bersama Pasangan Tak Melulu Soal Pace, Candra : yang Penting Nikmati Perjalanan

41
Ketua Komunitas Lari Eastvarun, Candra Sugiartama bersama istrinya, Ratih saat mengikuti event lari Yellow Run, Jakarta, Minggu (7/6/2026).

Olahraga lari kini semakin digemari di masyarakat, bahkan istilah-istilahnya pun kini mulai lekat, seperti istilah pace, personal best (PB), hingga target jarak. Namun, bagi Ketua Komunitas Lari Eastvarun, Candra Sugiartama bersama istrinya, Ratih melihat berlari tak harus selalu soal mengejar catatan waktu.

Candra dan Ratih yang ditemui di salah satu mal di kawasan BSD City, Kabupaten Tangerang, Sabtu (8/8/2026) mengikuti aktivitas lari yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan olahraga di kawasan tersebut.

Bagi Candra, setiap orang memiliki alasan berbeda ketika memilih olahraga lari. Ada yang mengejar prestasi, menjaga kebugaran, mencari teman, hingga sekadar menghabiskan waktu bersama orang terdekat.

Karena itu, menurutnya tidak ada keharusan bagi setiap pelari untuk selalu mengejar kecepatan atau waktu tercepat.

“Kami tidak harus menjadi yang paling cepat. Yang penting kami terus bergerak, menikmati perjalanan, dan bisa memberikan energi positif kepada orang lain,” ujar Candra.

Ia pun menilai aktivitas lari dapat menjadi sarana untuk membangun kebersamaan, hal itu terlihat ketika dirinya dan Ratih berlari berdampingan, bercanda, hingga melakukan aksi spontan selama mengikuti beragam event lari.

Keduanya juga pernah menyelesaikan jarak 5 kilometer dengan catatan waktu 38 menit 20 detik atau pace 7:39 menit per kilometer.

Bagi Candra, catatan waktu tersebut bukan menjadi ukuran utama. Menurutnya, pengalaman selama berada di lintasan justru menjadi bagian penting dari aktivitas olahraga.

“Olahraga tidak harus selalu serius. Berlari juga boleh sambil tertawa,” katanya.

Candra yang aktif dalam komunitas lari juga melihat adanya beragam karakter pelari. Tidak semua orang memiliki kemampuan dan kecepatan yang sama ketika menempuh sebuah jarak.

Ada pelari yang mampu menyelesaikan 5 kilometer dengan cepat. Ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama, mengombinasikan lari dengan berjalan, atau bahkan baru mulai berani mengikuti kegiatan lari.

Menurut Candra, perbedaan tersebut bukan alasan untuk saling membandingkan. Sebaliknya, setiap orang perlu mendapatkan ruang untuk menikmati olahraga sesuai kemampuannya.

 

“Yang penting sudah mengambil langkah pertama,” ujarnya.

Ia juga menilai peran komunitas bukan hanya mendorong anggotanya untuk berlari lebih cepat, tetapi juga menciptakan suasana yang membuat setiap orang merasa nyaman untuk terus bergerak.

Dalam konteks tersebut, seorang pemimpin komunitas tidak selalu harus berada di posisi terdepan. Terkadang, kata Candra, berada di samping dan menemani anggota lain juga menjadi bagian penting.

“Pemimpin tidak harus selalu berada paling depan. Terkadang justru harus berada di samping, menemani, menyemangati, dan memastikan tidak ada orang yang merasa berjalan sendirian,” tuturnya.

Menurutnya, tren olahraga lari seharusnya tidak membuat orang yang baru memulai merasa minder. Sebab, setiap pelari mempunyai tujuan dan perjalanan masing-masing yang pada akhirnya, lari bukan hanya tentang siapa yang paling cepat mencapai garis finis.

Aktivitas tersebut juga bisa menjadi ruang untuk menjaga kebugaran, bertemu orang baru, membangun komunitas, hingga menikmati waktu bersama orang-orang terdekat. (Agung)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.