RS Mayapada Diduga Manipulasi Hasil Swab Test Pasien

47
Suasana depan RS Mayapada.

 

Tangerang – Seorang ibu berinisial T mengalami kisah pilu, anak nya SZP dinyatakan meninggal setelah mendapatkan perawatan di rumah sakit swasta Kota Tangerang. Perawatan dinilai oleh keluarga janggal mulai dari penangangan medis hingga pemberian status covid-19.

SZP mendapatkan perawatan medis diabetes di RS Mayapada sejak Minggu (20/9) namun terakhir justru dinyatakan Positif Covid-19 dan meninggal dunia pada Selasa (22/9) malam sekira pukul 21.00 WIB.

Ibu korban T mengatakan, pada awalnya anaknya sakit demam Kamis (17/9) lalu. “Sakitnya demam biasa, pusing terus dibawa ke dokter umum lalu mendingan,” katanya saat dikonfirmasi media melalui telpon, Jumat (25/9).

Setelah pulang ke rumah, Minggu (20/9) anaknya merasa tidak enak badan dan agak sesak nafas. T dan M langsung mengambil tindakan dengan membawa putrinya ke RS Mayapada sekira pukul 17.00 WIB. Lantaran tidak ada dokter spesialis, saat itu anaknya diperiksa oleh dokter umum. “Karena ada gejala sesak nafas kita enggak boleh masuk ke ruang IGD dan ditaruh (ditempatkan-red) di tenda, diperiksanya di tenda untuk cek lab. Karena pandemi kita khawatir dan melakukan rapid test yang hasilnya non reaktif,” ungkapnya.

T menuturkan, keluarga menginginkan SZP dirawat, namun pihak rumah sakit menyarankan tidak usah di rawat lantaran hasil hanya asam lambungnya saja naik jadi mengakibatkan agak sesak nafas. Setelah pulang, Senin (21/9) dini hari sekira pukul 03.00 WIB anaknya mengalami sesak nafas kembali dan meminta di oksigen. “Kami balik lagi ke RS Mayapada terus di cek semuanya eamang gula darahnya tinggi hingga 520 dan mereka memberikan obat,” tuturnya.

Menurut T, anaknya memang sakit gula darah sejak bawaan dari bayi. SZP sempat membaik sesak nafasnya, namun ia kembali kehilangan kesadaran pada pukul 10.00 WIB. “Setelah enggak sadar dipanggil dokter terus dipindahin ke ruang IGD. Meraka (petugas kesehatan-red) mau ditempatkan di ICU tapi cuma dipindah ke IGD, terus dipasang alat bantu pernafasan,” jelasnya.

Setelah itu, Dokter Kepala IGD ikut menangani anaknya dan sempat breafing dengan dokter-dokter yang sebelumnya menangani. “Kepala IGD sempat marah-marah tapi saya enggak ngerti karena medis. Akhirnya anak saya ditangani dia (kepala IGD) dan anak saya sempat sadar,” ujarnya.

Setelah itu, T dan M dipanggil oleh dokter yang menyatakan anaknya sudah sadar namun masih dalam keadaan kritis. Ia melanjutkan, Kondisinya sadar enggak, sadar enggak. “Setelah itu anak saya mulai membaik, hingga Selasa (22/9/) dini hari pukul 04.00 WIB mengalami penurunan dan ditaruh di ICU tapi satu ruangan dengan pasien Covid-19. Di situ anak saya ngedrop mulu sampai koma,” urainya.

Dokter terus melakukan penanganan, namun pernyataan dokter yang diberikan kepada T dan M tidak mengenakan. Kata dia, pihak dokter terus mengatakan “gambling” atau coba-coba saat menangani anaknya. “Mereka memberikan insulin terus menerus, dari gula darah anak saya 520 sampai drop 70. Saya menduga dosis yang diberikan berlebihan, harusnya insulin diberikan secara bertahap,” tuturnya.

T menambahkan, kondisi anaknya semakin memburuk hingga akhirnya obat tidak bisa lagi masuk melalui nadinya lantaran sudah membengkak. Dokter menyarankan untuk memasang ventilator melalui paha atau dada. “Kita sebagai orang awam menyetujui agar anak saya mendapat layanan terbaik. Tapi dokter bilang kalau dalam waktu 30 menit anak saya tidak sadar dinyatakan meninggal. SZP dinyatakan meninggal dunia Selasa (21/9) malam sekira pukul 21.00 WIB,” imbuhnya.

Setelah meninggal dunia dan menjalani proses pemakaman sesuai protokol Covid-19 pihak orangtua baru diberikan hasil swab test yang dilakukan pada Senin (21/9) lalu. “Setelah saya membayar administrasi sebesar Rp65 juta, rumah sakit baru memberikan hasil swab test anak saya positif. Kayanya hasil swabnya juga dimanipulasi, soalnya sebelum saya bayar administrasi saat saya tanya pihak rumah sakit enggak tau kapan hasilnya keluar,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia mempertanyakan pihak rumah sakit yang meminta bayaran proses perawatan anaknya padahal anaknya dinyatakan positif Covid-19. Ia juga sempat menghubungi salah satu pegawai rumah sakit di depok yang menyatakan harusnya rumah sakit Mayapada yang merupakan rujukan covid dari pemerintah tidak berbayar untuk pasien Covid-19. “Kita aja yang rumah sakit swasta enggakq bayar kalau pasien Covid-19, apalagi itu rumah sakit rujukan pemerintah,” pungkasnya.

Sementara itu, pihak rumah sakit Mayapada belum memberi konfirmasi terkait permasalahan tersebut. Saat dikonfirmasi melalui telpon, salah satu CS RS Mayapada enggan memberikan komentar dan menyarankan untuk melakukan konfirmasi melalui email customercare.mht@mayapada.com. Namun, saat dikonfirmasi melalui email tersebut, tidak ada jawaban dari RS Mayapada. (Eky F./Katakota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.