Suasana Duka Selimuti Kelurahan Pisangan

23
14 korban kecelakaan di makamkan massal
14 korban kecelakaan dimakamkan massal

Tangsel, Katakota.com-Suasana haru menyelimuti kawasan Jalan Legoso raya terutama ketika memasuki Gang lurah Disah RT 002/001 Kelurahan Pisangan Ciputat  timur.

Bendera kuning dan karangan bunga duka cita berjejer hampir sepanjang jalan dan depan Kantor Kelurahan Pisangan. Diketahui rumah korban berdekatan dan saling bertetangga.

Ribuan warga berbondong-bondong mendatangi rumah duka, dan Tempat Pemakaman Umum (TPU) Legoso Pisangan. Mereka mengantar peristirahatan terakhir.

Akses menuju TPU macet, kendaraan roda empat dan dua terparkir di rumah-rumah warga sekitar.

Keluarga Korban Helmy Fahrizal (28) menceritakan menceritakan kedua orangtuanya tidak memberikan pesan apapun. Terkahir makan bersama pada Kamis, dan Jumatnya tidak bertemua seharian karena Helmy berangkat kerja pulang malam.

“Terakhir ketemu ibu dan ayah saat makan bersama pada Kamis. Saat makan bersama tidak ada keanehan, tidak memberikan pesan apapun apalagi menyampaikan akan berangkat jalan-jalan,” terangnya.

Setelah Sabtu sore, ia menerima informasi dari keluarga yang menelpon dirinya lalu meminta menonton televisi karena ada kecelakaan di tanjakan Emen Subang. Setelah menonton Helmy langsung menghubungi nomor telpon orangtuanya namun sayang telpon yang dihubungi tidak terangkat. Dirinya semakin panik dan ingin segera mengetahui keberadaannya.

“Akhirnya saya dan kakak serta paman langsung menuju Subang. Sesampainya di RSUD Subang saya tidak menemukan orangtua saya karena di UGD tidak ada. Lalu bertanya kepada pihak medis, lalu menyarankan agar menuju ke Kamar Mayat dan benar saja di sana orangtua saya ada. Disitu saya bernar-benar shok,” tuturnya terbata-bata.

Jono dan Sugianti adalah suami istri turut meninggal dalam kejadiaan naas kecelakaan tanjakman Emen, Subang. Jono (56) berprofesi sebagai pedagang hordeng. Telah puluhan tahun menjalani usaha ini dan sering pergi ke berbagai tempat wilayah Jabodetabek memenuhi pesanan.

“Ayah saya sehari-harinya membuat pesanan hordeng, usahanya ini sudah cukup lama digeluti. Sedangkan ibu saya adalah ibu rumah tangga tidak ada aktivitas apa-apa,” tambahnya.

Jono dan Sugiharti meninggalkan tiga anak. Mereka sudah berkeluarga, dan Helmy adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Hemy bercerita jika kedua orangtuanya telah mengikuti koperasi ini sudah cukup lama.(dit)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

 

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.