Tingkat Kepuasan Peserta JKN-KIS Terus Meningkat

2

 

Tangerang – Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan mengklaim indeks kepuasan peserta jaminan kesehatan nasional (JKN) kartu Indonesia sehata (KIS) meningkat setiap tahunnya. Tercatat pada 2019 indeks kepuasan berada pada angka 85 persen dibandingkan tahun sebelumnya 79,7 persen.

Direktur Perluasan dan Pelayanan Peserta BPJS Andayani Budi Lestari menjelaskan saat ini dari total penduduk indonesia ada 223.059.270 jiwa yang telah menjadi peserta. BPJS diberikan mandat untuk memberikan pelayanan bukan keuntungan, bahwa BPJS harus terus menerus melakukan inovasi untuk bisa meningkatkan pelayanan kepada peserta. Saat ini pelayanan berbasi digital menjadi inovasi yang terus digencarkan kepada masyarakat sehingga di masa pandemi seperti sekarang ini bisa turut mengurangi angka paparan Covid-19.

Andayani mengungkapkan bahwa ada 10.299.968 peserta pengguna yang tercatat telah memanfaatkan program digital melalui aplikasi mobile JKN. Untuk pelayanan paling tinggi ada pada perubahan data KTP oleh para peserta. Kemudian, fitur yang baru juga tersedia seperti tindakan operasi, konsultasi dokter serta informasi obat yang ditanggung.

“Untuk menunjang itu kami memiliki tools untuk melihat apa yang dibutuhkan peserta. Melalui pelayanan berbasi digital banyak manfaat yang di dapat oleh peserta, untuk konsultasi dokter bisa di cal center 1500 400. Saat ini sudah ada 86.6705 peserta yang memanfaatkan layanan call center,” katanya, Kamis (23/10) melalui acara zoom meeting.

Sementara itu, anggota dewan jaminan sosial nasional (DJSN) Muttaqien menambahkan, bahwa melalui progam JNK-KIS pemerintah inginmenunjukan bahwa negara hadir memberikan perlindungan bagi masyarakat. Diakui memang tingkat kepesertaan terus meningkat, pada 2018 hanya tercapai 80,95 persen dari total penduduk Indonesia dengan realisasi 208.054.199 dan di 2019 224.149.019.

Muttaqien memaparkan pertumbuhan akses pelayanan RJTP kurun waktu 2014-2018 juga menunjukan peningkatan. Pada wilayah Indonesia timur terjadi peningkatan akses, contohnya di Papua 100 persen kemudian di Maluku 64 persen.

“Bahwa kami melihat tahun ini BPJS akan surplus, sejak bulan juni lalu tunggakan sudah lunas. Untuk itu harapan kami dana itu bisa dipergunakan atau dikembalikan lagi kepada para peserta untuk meningkatan pelayanan,”ucapnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Pengurus harian YLKI Tulus Abadi mengakui memang terjadi peningkatan indeks kepuasan peserta JKN-KIS setiap tahunnya namun tidak berbading lurus dengan angka kepuasan peserta terhadap fasilitas kesehatan (faskes). Indeks kepuasan peserta JKN pada 2019 berada pada 85 persen namun untuk kepuasan faskes hanya 80 persen.

Terkait pelayanan berbasis digital yang tengah digalakan oleh BPJS JKN – KIS sepenuhnya pihaknya mendukung terlebih dalam kondisi pandemi Covid-19 yang sampai saat ini terjadi. Selain itu berdasarkan data di Indonesia sudah 350 juta pengguna telepon selular dan 175 juta masyarakat mengakses internet.

“Relevan dengan pandemi covid-19, faskes harus mewujudkan proses bisnis berbasi digital karena terjadi penuruna jumlah kunjungan pasien ke faskes karena pasien takut terjadi transimisi covid19, itu bisa disiasati dengan program telemedicine.
Kemudian dengan digital kita dapat mewujudkan transparansi dan akuntabibilitas pelayanan kepada pasien misalnya terkait antrian
serta mewujdukan efisiensi pelayanan. Saya kira pelayanan digital lebih efisien ketimbang pelayanana manual.” katanya. (Eky Fajrin/Katakota.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.