Upacara Cioko Sembahyang Untuk Arwah Terlantar di Boen San Bio

20
upacara Cioko di Vihara Ni Mala (Boen San Bio), Jalan KS Tubun, Karawaci, Kota Tangerang, pada Senin (26/8/2019) malam.(cecep/katakota.com)
lebaran

Tangerang, Katakota.com -Pembakaran Boen Tay Soe dan Perahu Naga menjadi puncak upacara Cioko di Vihara Ni Mala (Boen San Bio), Jalan KS Tubun, Karawaci, Kota Tangerang, pada Senin (26/8/2019) malam.

500 umat Budha menggelar upacara Cioko atau sembayang untuk arwah terlantar di Vihara Nimmala atau Boen San Bio, Jalan K.S Tubun, Pasar Baru Kota Tangerang. Senin,(26/8/19).

Umat Budha di wilayah Kota Tangerang menggelar upacara Cioko atau Ulambana di Vihara Nimmala atau Boen San Bio, Pasar Baru.

Upacara ini merupakan bentuk keyakinan untuk mengantar arwah-arwah yang terbengkalai atau tidak diurus oleh keluarga, menuju surga.

Upacara dilakukan setiap tahun tepatnya tanggal 7, bulan 7, di tanggalan kalender China, yang kali ini jatuh pada Senin, (26/8/19). malam.

Rentetan kegiatan warnai prosesi persembahyangan Cioko yang menjadi tradisi umat Buddha setiap tahunnya ini. Salah satu rangkaian dalam upacara tersebut adalah persembahyangan Chao Du.

Seadng menaburkan kertas untuk proses pembakaran patung dan perahu naga,(cecep/katakota.com)

“Chao Du ini adalah upacara persembahyangan yang ditujukan untuk para leluhur. Umat yang ingin melakukan pelimpahan jasa kebajikan kepada para leluhurnya dapat mengikuti upacara ini,” ujar Ian Suharlim, Pembina Yayasan Vihara Ni Mala.

Dalam upacara tersebut, mereka mempersiapkan sederet rangkaian perayaan sejak pagi.

Mulai dari mengumpulkan foto-foto jenazah yang belum didoakan atau ditelantarkan oleh keluarganya, hingga pembakaran patung raja setan Boen Tai Soe dan replika kapal berisi lembar doa dan foto jenazah.

“Makna pembakarannya sih secara umum bagi yang masih hidup berdoa untuk dilimpahkan jasanya kepada leluhur yang kita kenal atau tidak, sehingga mereka bisa ke alam surga yang bahagia,” kata Koh Bebeng Ketua Pelaksana Upacara Cioko, di lokasi acara.

Koh Bebeng Ketua Pelaksana Upacara Cioko, di lokasi acara.(cecep/Katakota.com)

Berdasarkan pantauan di lokasi Senin pukul 19.00 WIB, sebanyak 500 umat yang terdata dan warga setempat berkumpul di area pembakaran di halaman vihara.

Para umat yang datang bersiap ikut membakar kapal dan patung, yang dipimpin oleh 9 orang biksu dari China dan Indonesia.

Masing-masing membawa hio dan lilin untuk membakar sambil mengelilingi replika kapal. Hingga pada waktunya biksu datang selesai berdoa, mereka mulai membakarnya.

Api cepat membakar kapal dan patung raja setan setinggi 9 meter tersebut. Petugas pemadam kebakaran telah bersiap menyemprot agar api tidak merambat ke area vihara.

Sontak, para warga yang menyaksikan langsung di tempat mundur menghindari suasana panas dari api tersebut. Namun, ponsel tak lepas dari tangan mereka untuk terus merekam upacara pembakaran.

Tim pemadam kebakaran sedang menyisir kobaran api agar tidak terkena vihara,(cecep/Katakota.com)

Mereka mundur hingga 10 meter dari titik api dan berlindung ke arah pagar keluar vihara.

Sementara itu, tak sampai 5 menit, bara api semakin membesar dan telah menghanguskan patung raja setan yang tingginya mencapai ruang lantai dua vihara.

Selanjutnya, patung dan replika kapal hangus dengan menyisakan rangka-rangkanya yang masih terbakar.

Setelah api mulai jinak, sekitar 20 pemuda keluar dari vihara. Mereka membawakan tarian ular naga lengkap dengan musik khasnya, sambil mengelilingi bara api yang tersisa.

Tarian tersebut menjadi penutup upacara Cioko pukul 21.00.WIB, yang ditutup pula dengan tepukan tangan para umat dan warga yang hadir. (Ccp)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.