BMKG juga mencatat adanya sebaran abu yang ketinggiannya hingga sekitar 50.000 kaki. Kalau dilihat sekilas, abu vulkanik memang hanya seperti debu biasa yang bikin lingkungan kotor. Padahal, partikel-partikel halus di dalamnya bisa mengganggu kesehatan, lho!
Lantas, sebenarnya apa saja bahaya abu vulkanik bagi kesehatan? Simak selengkapnya, yuk!
1. Mengganggu Saluran Penapasan
Ilustrasi gangguan saluran pernapasan/ Foto: Freepik.com
Salah satu dampak yang paling perlu diwaspadai adalah gangguan pada saluran pernapasan. Partikel abu vulkanik yang sangat kecil bisa terhirup ketika kita berada di luar ruangan dan kemudian masuk ke hidung, tenggorokan, hingga saluran pernapasan.
Paparannya dapat membuat tenggorokan terasa gatal atau perih, memicu batuk, pilek, sesak, serta membuat napas terasa kurang nyaman. Apalagi untuk orang yang memiliki masalah pernapasan, paparan abu bisa terasa lebih mengganggu hingga menyebabkan penyakit pernapasan akut atau kronis.
Karena itu, ketika abu vulkanik sedang menyebar, sebaiknya kurangi aktivitas di luar ruangan dan gunakan masker yang sesuai jika memang harus keluar. Kementrian Kesehatan juga mengimbau masyarakat untuk sebisa mungkin berada di dalam rumah dan menggunakan masker untuk mengurangi paparan abu.
2. Menyebabkan Iritasi Mata
Ilustrasi iritasi mata/ Foto: Freepik.com
Mata juga menjadi salah satu bagian tubuh yang cukup rentan terkena abu vulkanik. Partikel abu yang bertebaran bisa masuk ke mata dan menyebabkan rasa perih, gatal, kemerahan, berair atau sensasi seperti ada benda asing yang mengganjal.
WHO juga memasukkan iritasi mata dan konjungtivitis sebagai salah satu dampak kesehatan yang dapat terjadi akibat aktivitas vulkanik. Makanya, kalau kondisi di luar sedang berdebu akibat abu vulkanik, sebaiknya memakai kacamata sebagai pelindung tambahan.
Hindari mengucek mata ketika terasa gatal atau seperti kemasukan debu karena justru akan membuat iritasi semakin parah. Kalau keluhan mata terasa berat atau tidak kunjung membaik, sebaiknya periksakan ke tenaga medis ya, Beauties.
3. Mengiritasi Kulit
Ilustrasi iritasi kulit/ Foto: Freepik.com
Bukan hanya mata dan pernapasan, kulit juga bisa ikut terkena dampaknya. Abu vulkanik yang menempel pada kulit dapat menyebabkan rasa gatal, kering, kemerahan, hingga iritasi, terutama pada orang yang kulitnya sensitif. Kementerian Kesehatan menyebutkan abu vulkanik memang berpotensi menyebabkan iritasi pada kulit.
Oleh karena itu, setelah beraktivitas di area yang terkenal abu, sebaiknya segera membersihkan tubuh dan mengganti pakaian yang sudah terkena debu ya, Beauties. Hindari membiarkan abu menempel terlalu lama di kulit.
4. Silikosis
Ilustrasi silikosis/ Foto: Freepik.com/8photo
Silikosis merupakan bahaya jangka panjang jika kamu terpapar abu vulkanik. Paparan berulang atau berkepanjangan terhadap partikel abu vulkanik tertentu juga dapat meningkatkan risiko gangguan pada sistem pernapasan pada paru-paru.
Hal ini dikarenakan abu vulkanik mengandung silika yakni zat kimia yang jika terpapar terlalu lama akan mengganggu pernapasan. Adapun gejala silikosis yang harus kamu waspadai ialah batuk berdahak atau kering, sesak napas, terasa nyeri pada dada, demam, napas berbunyi nyaring, hingga penurunan berat badan.
Maka dari itu, jangan menganggap remeh abu hanya karena setelah beberapa jam tubuh terasa baik-baik saja. Selama sebaran abu masih terjadi, usahakan mengurangi paparan sebanyak mungkin, terutama dengan membatasi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan perlindungan yang tepat.
5. Mempengaruhi Pencernaan
Ilustrasi gangguan pencernaan/ Foto: Freepik.com/stockking
Abu vulkanik yang jatuh ke lingkungan juga berpotensi mencemari sumber makanan dan air. WHO menyebutkan abu dan bahan kimia dari aktivitas erupsi dapat menimbulkan risiko kontaminasi Makanan serta air. Hal ini tentunya akan berpengaruh pada sistem pencernaan.
Zat beracun dan partikel tajam yang tertelan, akan menyebabkan iritasi pada dinding lambung dan usus. Maka dari itu, penting untuk kamu menutup rapat makanan dan minuman kamu ya, Beauties. Dengan begitu, risiko abu ikut masuk ke tubuh melalui makanan atau minuman bisa diminimalkan.
Source : www.fimela.com































