Sejumlah buruh dan pengemudi ojek online (ojol) mengikuti aksi di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS), Jakarta Pusat, Selasa (7/10/2025).
Aksi yang digelar dalam rangka dua tahun genosida di Gaza ini diwarnai dengan seruan “Stop Genosida, Free Palestine” dan pengibaran bendera Palestina di tengah barisan massa.
Kelompok buruh dan ojol datang beriringan dari arah Patung Kuda Arjuna Wihana menuju lokasi aksi pukul 15.15 WIB.
Mereka membawa bendera organisasi dan sejumlah spanduk besar berisi tuntutan dukungan terhadap rakyat Palestina.
Beberapa di antaranya berasal dari Federasi Serikat Pekerja (FSP) Speed Ojol Indonesia, Konfederasi ASPEK Indonesia, dan sejumlah serikat buruh lainnya.
Salah satu spanduk yang dibawa bertuliskan, “Diam terhadap genosida adalah kejahatan. Ojol Indonesia bersuara untuk kemerdekaan Palestina. Stop genosida.”
Spanduk lain menyerukan desakan kepada pemerintah Indonesia, termasuk Presiden Prabowo Subianto segera mengirim pasukan perdamaian ke Gaza dan membebaskan aktivis Global Sumud Flotilla (GSF) yang ditahan di perairan Mediterania.
“Mendesak Presiden Prabowo untuk segera mengirim 20.000 pasukan perdamaian ke Gaza. Buruh Indonesia mendukung penuh Palestina merdeka,” demikian tertulis dalam salah satu spanduk besar berwarna putih.
Di antara lautan bendera dan seruan takbir, Hendra (35), pengemudi ojol asal Bekasi, tampak mengibarkan bendera Palestina di dekat mobil komando.
Ia mengatakan, keikutsertaannya dalam aksi ini didorong oleh rasa kemanusiaan dan solidaritas sesama.
“Kami, para ojol, ingin menunjukkan kalau rakyat kecil juga peduli. Anak-anak di Gaza dibunuh setiap hari. Kita enggak bisa diam,” ujar Hendra.
Peserta lainnya, Rizky (29), ojol dari Depok, mengatakan bahwa kelompoknya turun ke jalan atas inisiatif komunitas mereka sendiri. Ia juga menyerukan agar Amerika Serikat berhenti mendukung Israel.
“Kalau Amerika terus kasih senjata dan uang ke Israel, genosida enggak akan berhenti. Kami cuma ingin dunia dengar suara dari rakyat Indonesia yang menolak ketidakadilan,” ujarnya.
Sementara itu, Eka (42), perwakilan serikat buruh dari Konfederasi ASPEK Indonesia, menyebut keikutsertaan mereka adalah bentuk tanggung jawab moral terhadap kemanusiaan.
“Buruh Indonesia tidak hanya bicara upah dan kesejahteraan. Ketika ada bangsa lain ditindas, kami juga wajib bersuara. Palestina adalah isu kemanusiaan, bukan hanya agama,” ucap Eka.
Di tengah kerumunan, tampak satu mobil komando dengan pengeras suara besar di atasnya.
Dari atas mobil itu, sejumlah orator bergantian menyampaikan pesan dan doa untuk rakyat Palestina.
Peserta aksi duduk di badan jalan, sebagian lainnya berdiri sambil membentangkan spanduk dan membagikan selebaran (flyer) bertuliskan “Stop Genocide Gaza”, “Free Palestine”, dan “Bebaskan Relawan Global Sumud Flotilla”.
Tokoh agama Felix Siauw juga hadir menyampaikan orasi di hadapan massa. Ia menegaskan, dukungan terhadap Palestina adalah bentuk solidaritas kemanusiaan yang tidak boleh berhenti.
“Ini bukan soal politik domestik. Ini soal kemanusiaan. Indonesia harus terus bersuara dan menekan agar blokade Gaza dihentikan,” ujar Felix.
Penutupan Jalan
Aksi ini menyebabkan sebagian ruas Jalan Medan Merdeka Selatan menuju Gambir ditutup sementara oleh pihak kepolisian.
Sebanyak 1.898 personel gabungan dikerahkan untuk mengamankan jalannya aksi yang diinisiasi oleh Global Peace Convoy Indonesia bersama sejumlah organisasi kemanusiaan.
Hingga pukul 15.35 WIB, massa masih bertahan di lokasi sambil melantunkan doa, menyanyikan lagu perjuangan, dan meneriakkan yel-yel “Free Palestine! Stop Genocide Now!”.
Source: Kompas.com


































