Jakarta, KataKota.com – Anggota Dewan Pers Jimmy Silalahi mengkritik stasiun televisi yang menayangkan secara langsung (life report) penggerebekan teroris
oleh Detasemen Khusus 88 Antiteror.
“Kami (Dewan Pers) merekomendasikan agar peristiwa penggerebekan teroris tak disiarkan langsung, apalagi durasi waktunya panjang,” ujar Jimmy dalam diskusi yang digelar Kejaksaan Agung di kawasan Anyer, Cilegon, Banten.
Menurut Jimmy, Dewan Pers sering kali menemukan beberapa stasiun televisi yang mengadakan siaran langsung saat penggerebekan terduga teroris terjadi di Indonesia.
Dalam aktivitas peliputan, kamera yang digunakan pun tidak hanya menyorot dari satu sudut saja, melainkan dari berbagai arah.
Larangan Dewan Pers ini bukan tanpa alasan. Menurut Jimmy, ketepatan dan efektivitas tugas aparat penegak hukum harus menjadi fokus utamanya.
Menurut kajian dewan pers, siaran langsung semacam itu, bisa mengurangi efektivitas sekaligus ketepatan aparat dalam menyasar terduga teroris.
“Misalnya kamera menyorot Densus 88 tengah masuk ke dalam rumah dari samping, kan teman teroris di tempat lain bisa menelpon. Hei, itu Densus dari arah samping. Si teroris bisa mengatur strategi lain,” ujar Jimmy.
Jika demikian, bukan lagi ketepatan dan efektivitas aparat penegak hukum lagi yang terganggu, melainkan juga keselamatan jiwanya.
“Di Mumbai, India pernah terjadi yang serupa ini. Polisi dipimpin salah satu jenderalnya menggerebek hotel yang diduga jadi tempat persembunyian teroris. Karena ada empat kamera televisi yang menyorot, teman
si teroris di gedung sebelah menembak jenderalnya karena dia lihat posisi si jenderal dari televisi,” ujar Jimmy.
Jimmy mengatakan, keberadaan media televisi yang menyiarkan penggerebekan teroris secara langsung itu juga perlu menjadi kajian kepolisian. Jangan sampai kepolisian malah menjadi pihak yang mengizinkan aktivitas peliputan yang berbahaya tersebut.
Penulis Eky




























