Melihat Kawasan Kota Lama Tangerang Abad 18-20

6
Katakota.com- Mushab Abdu Asy Syahid berhasil meraih juara pertama Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) kategori sarana dan prasarana yang digelar oleh Bappeda Kota Tangerang pada akhir tahun 2021.
Mushab mengangkat tema rekonstruksi Kota Lama Tangerang abad 18-20 dalam rangka mendukung pengembangan Kawasan Cagar Budaya Kota Tangerang.
Mushab mengatakan, latar belakang tema tersebut dikarenakan saat ini minat masyarakat dan pemerintah daerah terhadap pelestarian Cagar Budaya di Indonesia akhir-akhir ini meningkat, terutama setelah diberlakukannya Undang-Undang Nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya.
“Sejarah dan warisan budaya akhir-akhir ini ditampilkan secara kekinian dan populer melalui publikasi media sosial, sehingga semakin menjaring berbagai kalangan untuk mencintai kekayaan sejarah dan budaya mereka,” ungkapnya.
Sejalan dengan itu, menurut Mushab sebagai seorang warga Tangerang sekaligus ahli Cagar Budaya dan sejarah arsitektur-kota Tangerang, sejak tahun 2010 Pemkot berencana merevitalisasi kawasan Kota Lama Tangerang. Akan tetapi, rencana besar itu kerap kali menemui kendala seperti kurangnya penelitian mengenai sejarah kota dan arsitektur yang tidak merujuk sumber kredibel, membuat pembangunan beresiko menghilangkan keaslian kawasan Kota Lama Tangerang sebagai Kawasan Cagar Budaya.
“Gagasan utama penelitian ini adalah merekonstruksi kawasan Kota Lama Tangerang abad 18-20 melalui kajian historiografi spasial, yang bertujuan mengidentifikasi perubahan fisik kawasan Cagar Cudaya sepanjang waktunya. Sehingga menjadi landasan historis dan inovatif bagi pengembangan dan pemanfaatan di masa depan,” katanya.
Penelitian tentang kawasan Kota Lama Tangerang bukan yang pertama kali dilakukan oleh Mushab. Sebelumnya ia telah melakukan beberapa kajian yang berfokus pada aspek sejarah arsitektur dan kota, sosial-budaya, dan identitas lokal Tangerang.
Antara lain kajian pelestarian Masjid Jami Kalipasir sejak 2016, Tesis S-2-nya yang membahas sejarah kota dan arsitektur pascakolonial Tangerang (2017), Benteng Tangerang dan pelestarian Cagar Budaya kota (2018), infrastruktur kota kolonial di Tangerang abad 18-20 (2020), ritus dan tradisi lisan di Pasar Lama (2021), serta kajian artefak pada kompleks makam Masjid Jami Kalipasir (2021).
“Penelitian rekonstruksi Kota Lama Tangerang abad 18-20 ini adalah studi lanjutan dari kajian yang sudah kami lakukan sebelumnya,” kata dia.
Menurutnya, sudah banyak penelitian yang menekankan kawasan Pasar Lama Tangerang sebagai kampung halaman komunitas Tionghoa peranakan Cina Benteng, namun sedikit yang menyinggung kawasan ini pada mulanya dikembangkan oleh kelompok masyarakat muslim Sunda.
Ketimpangan penelitian itu akhirnya berdampak pada kurangnya narasi historis yang adil mengenai peran penting komunitas yang beragam di Pasar Lama.
“Dari fakta-fakta tersebut, maka diharapkan topik penelitian yang kami lakukan adalah topik baru yang berpotensi memberi dampak signifikan terhadap pengembangan Kawasan Cagar Budaya Kota Lama Tangerang,” katanya.
Mushab menjelaskan, penelitiannya menggunakan metode kualitatif dalam merekonstruksi kawasan Kota Lama Tangerang abad 18-20, yaitu melalui kajian historiografi serta penelusuran sumber arsip dan tradisi lisan. Segala sumber informasi membantu dalam menggambarkan kawasan Kota Lama Tangerang di masa lampau.
“Metode historiografi meliputi tahap-tahap pencarian dan pengumpulan sumber secara heuristik; kritik sumber intern dan ekstern; interpretasi; dan penulisan sejarah. Selain itu, metode pengumpulan informasi bersumber dari literatur _Digging4Data atau Mencari Data_, ” katanya.
Dari hasil rekonstruksi tersebut, penelitian ini menunjukkan bahwa kawasan yang terdiri atas blok inti Pasar Lama, blok Pendopo serta blok Stasiun Tangerang ini mengalami transformasi fisik yang sangat dinamis.
Selama 300 tahun lamanya sejarah kolonialisme VOC dan Hindia-Belanda, Kota Lama tersusun atas lapisan-lapisan sejarah dan peran beragam kelompok masyarakat, seperti komunitas Cina Benteng, komunitas muslim Sunda yang dipimpin oleh keluarga Aria, masyarakat kolonial Eropa, hingga komunitas Bugis-Makassar. Kehadiran merekapun semakin memperkaya multikulturalisme di Kawasan Cagar Budaya Pasar Lama Tangerang.
Peran masyarakat Sunda di Kalipasir juga menandai eksistensi umat muslim di Pasar Lama Tangerang, yang selama ini lebih dianggap hanya menjadi kampungnya orang-orang Cina Benteng. “Dengan demikian, rencana revitalisasi Kawasan Cagar Budaya yang mengadakan intervensi skala besar berupa penataan lingkungan sekitar objek-objek Cagar Budaya juga harus melibatkan aspirasi warga, sebagai garda terdepan dan aktor pelestari yang paling dekat kesehariannya dengan warisan budaya yang kota ini miliki,” ungkapnya. (Adit)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

 

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.