Memaknai Keberagaman di Konteks Urban dari Perspektif Multikulturalisme

65
Memaknai Keberagaman di Konteks Urban dari Perspektif Multikulturalisme,(adit/katakota.com)

Tangerang Selatan, Katakota.com– Universitas Pembangunan Jaya (UPJ) mengadakan Diskusi Bedah Buku Psikologi Sosial : Pengantar dalam Teori dan Penelitian dengan tema Memaknai Keberagaman di Konteks Urban dari Perspektif Multikulturalisme. Kegiatan terselenggara atas kerjasama Center for Urban Studies, Program Studi Psikologi dan Bagian Perpustakaan dari UPJ, serta Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara dan Ikatan Psikologi Sosial serta Penerbit Salemba.

Narasumber kegiatan ini adalah Clara Moningka dosen Program Studi Psikologi UPJ (PSI UPJ) selaku penulis bab dalam buku tersebut. Dr. Zainal Abidin, dosen Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran, menjadi Pembahas mewakili Ikatan Psikologi Sosial (IPS). Moderator diskusi ini adalah Dr. Selviana dari Fakultas Psikologi YAI mewakili Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara (KPIN).

Isu diskusi buku ini adalah multikulturalisme, yaitu pandangan menghargai keberagaman manusia – melampaui ras, etnisitas, gender dan lain sebagainya. Hal ini penting dalam kajian urban, sebagaimana digarisbawahi Ir. Resdiansyah Mansyur, Ph.D selaku Direktur Center for Urban Studies sebagai pusat unggulan Universitas Pembangunan Jaya. Memahami kota tak dapat dilepaskan dari memahami manusia yang hidup di dalamnya termasuk dari segi perilaku – oleh karena itulah diskusi ini tersebut relevan untuk konteks urban.

Clara Moningka membuka pembahasan dengan mengupas prasangka, dimana emosi manusia muncul kuat dan negatif apabila terkait kelompok “yang lain.” Dirinya menawarkan multikulturalisme sebagai sudut pandang yang dapat merangkul atribut yang sama antar manusia dan tidak hanya fokus pada perbedaan antar manusia.

Zainal Abidin menyoroti kondisi politik saat ini membahas multikulturalisme. Dirinya menyoroti kekakuan kognitif (cognitive rigidity) kelompok ormas yang mengusung politik identitas:

“Jika tidak A, sudah pasti B dan otomatis buruk karena berbeda,” ujarnya.

Di akhir paparan, para pembicara memberikan tips memaknai keberagaman menggunakan perspektif multikulturalisme, utamanya di konteks urban.

Salah satu tips adalah hipotesis kontak (contact hypothesis) dimana toleransi tumbuh melalui interaksi individu dari kelompok berbeda yang bekerjasama secara setara guna mencapai tujuan yang sama.

Tanya jawab memunculkan isu menarik. Gita Soerjoatmodjo dari Program Studi Psikologi menjelaskan bagaimana contact hypothesis diterapkan di Kelas Open To All (KOTA) di UPJ yang secara sadar dirancang menumbuhkan toleransi dalam keseharian dengan contoh mata kuliah Agama.

Agustine Dwianika dari Program Studi Akuntansi mengupas multikulturalisme dalam profesi dan kode etik – utamanya dalam relasi dengan klien. Lerbin Aritonang dari Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) wilayah Banten mengupas pentingnya mengkaji multikulturalisme termasuk fenomena hoax media sosial. Resdiansyah Mansyur dari Center for Urban Studies berbagi pengalaman tinggal di berbagai kota multikultural di dunia dan menyoroti bagaimana keberagaman tersebut ditumbuhkan di kota.

Mahasiswa juga mengajukan berbagai pertanyaan dalam kesempatan ini. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul adalah bagaimana menerapkan multikulturalisme dalam kehidupan kaum muda agar dapat melawan intoleransi termasuk di berbagai konteks seperti sekolah.  Hal ini menunjukkan besarnya dorongan generasi milenial memaknai keberagaman sebagai identitas Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika. M. Syafiq Kumala P dari Perpustakaan UPJ memberikan buah tangan pada tiga penanya terbaik yaitu souvenir buku Penerbit Salemba penyemangat menumbuhkan budaya literasi.(dit/ris)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.