Angela Tevina Rompis mengharumkan nama Indonesia pada ajang New York Couture Fashion Week 2016, Februari 2016 lalu. Dia menjadi satu-satunya entreprenuer fashion termuda yang berhasil menampilkan karyanya di depan ratusan masyarakat New York.
Usia Angela masih 16 tahun ketika menampilkan koleksi Summer Tie Dye di hadapan pemerhati fashion dan media massa Amerika Serikat yang datang ke New York Couture Fashion Week 2016. Siswi kelas 2 SMA Plus Pembangunan Jaya Bintaro Tangerang Selatan itu mengedepankan unsur fun dan menarik dalam koleksinya.
Dia mendapatkan tawaran untuk mengikuti New York Couture Fashion Week 2016 setelah menarik perhatian dalam pameran dagang yang digelar terlebih dulu. Angela berhasil menjual sebanyak 200 koleksi hasil karya desainnya di 14 butik di Amerika Serikat.
Dara berkulit putih ini sebelumnya sudah melanglang buana di berbagai kegiatan pameran fashion di Amerika Serikat. Di antaranya di Indonesia Expo New York yang diadakan oleh INDOAS serta pameran dagang lainnya di NY NOW ISNA di Chicago.
Karya yang ditampilkan oleh Angela adalah produk dari Tie Dye yang terdiri dari kaftan dan beberapa pakaian muslim. Yang paling menarik adalah menampilkan koleksi C by Angel dengan tema Dyeing for Summer. Melalui tema tersebut, Angela membuat desain baju baju summer dari kain tie dye berwarna cerah. Mulai dari tank top hingga maxi dress.
Dalam pameran tersebut gadis penyuka pelajaran Kimia ini memamerkan sebanyak 9 karyanya. Masing masing memiliki tema yang simpel serta nyaman dipakai khususnya oleh remaja.
“Pakaian summer karena kemarin disesuaikan dengan musim di Amerika yang akan menyambut musim panas,”terangnya.
Kiprah Angela di dunia fashion berawal dari kegemarannya mendesain pakaian dalam aplikasi desain grafis. Menurutnya desain miliknya tidak seperti kebanyakan desainer lainnya yang menggunakan teknik dasar menggambar di kertas. Hobi mendesain lewat aplikasi desain grafis itu dimulainya pada tahun 2014. Dia juga berupaya menambah ilmunya mengenai Fashion di internet.
“Aku ga terlalu bisa gambar desain baju di kertas. Jadi selama ini desainnya di komputer dengan desain grafis,”ujarnya.
Warga Bintaro Jaya ini selanjutnya bertemu dengan sahabat dari sang ibu yang juga seorang desainer dan pernah bekerja di salah satu desainer ternama di Indonesia. Pertemuan itu semakin membuatnya termotivasi untuk mengembangkan desainnya. Sejak itu dia percaya diri membawa gambar desainnya ke konveksi untuk dijahit. Dia menawarkan hasil desainnya ke teman teman dan mendapatkan respon baik. Kedua orang tuanya kemudian membuka galeri karya Angela di Bintaro dan Blok M.
“Waktu itu aku banyak desain Tie Dye yang terdiri dari kaftan dan pakaian muslim serta batik dan tenun yang semuanya adalah handmade,”ungkapnya.
Seiring berjalannya waktu, pada pertengahan 2015 dia mendapatkan tawaran secara tak terduga untuk mengikuti pameran dagang di New York Amerika Serikat. Kesempatan itu tak disia-siakan. Angela membawa hasil karyanya dan laris terjual sehingga panitia New York Couture Fashion Week 2016 mengundangnya.
“Setelah New York Couture Fashion Week, saya mendapatkan 100 pesanan. Saat ini sedang dalam proses pengerjaan dan siap untuk dikirim ke Amerika Serikat,”ungkapnya.
Saat ini, yang membuatnya kesulitan adalah manajemen waktu. Dia harus membagi waktu sekolah namun tidak menurunkan semangatnya untuk terus berkarya. Dara blasteran Manado Sunda ini berharap prestasinya dapat terus mengembangkan karirnya menjadi entrepreneur yang go internasional dengan misi memperkenalkan Indonesia. Menurut Angela, Indonesia memiliki banyak produk high quality dan mampu bersaing dengan produk internasional.
“Kuncinya dalam menembus pasar Internasional, kita harus percaya diri dan kreatif berbeda dengan lainnya selain itu juga harus memperluas jaringan,”pungkasnya. (ACW)























