Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) menggandeng Universitas Bunda Mulia (UBM) untuk menyiapkan talenta yang sesuai dengan kebutuhan industri ritel. Keduanya menjajaki pembangunan retail talent pipeline yang menghubungkan dunia pendidikan dengan kebutuhan dunia usaha.
Kolaborasi tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) APRINDO dan UBM di Kampus UBM, Tangerang, Rabu (9/9/2026).
Ketua Umum APRINDO Solihin mengatakan kerja sama tersebut bukan sekadar seremoni. Menurutnya, kolaborasi dengan perguruan tinggi menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pengembangan talenta ritel secara berkelanjutan.

“Bagi kami, MoU hari ini bukan sekadar kerja sama antara organisasi dan perguruan tinggi. Ini adalah bagian dari upaya kita bersama untuk menjawab kebutuhan yang sangat nyata di industri ritel Indonesia, yakni talenta ritel yang kompeten, profesional, dan siap menghadapi perubahan zaman,” ujar Solihin.
Solihin menjelaskan APRINDO memiliki akses langsung terhadap kebutuhan industri dan dunia usaha. Sementara UBM memiliki kapasitas akademik untuk menyiapkan talenta.
Kolaborasi keduanya diharapkan dapat mempertemukan supply talenta dari dunia pendidikan dengan demand tenaga kerja di sektor ritel.
“Industri memiliki kebutuhan dan persoalan nyata, sementara kampus memiliki talenta dan pengetahuan. APRINDO menjadi jembatan yang menghubungkan keduanya,” katanya.
Solihin menyebut industri ritel terus berkembang seiring perubahan teknologi dan perilaku konsumen. Namun, kebutuhan tenaga kerja di sektor ini selama ini banyak dipenuhi lulusan dari berbagai disiplin ilmu.
“Semakin besar industri ritel berkembang, semakin besar pula kebutuhan kita terhadap sumber daya manusia yang memahami ritel secara spesifik,” ujarnya.
APRINDO menyebut sektor perdagangan menjadi kontributor terbesar kedua terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia setelah industri pengolahan. Pada 2025, kontribusinya mencapai 13,17% terhadap PDB nasional, sedangkan perdagangan besar dan eceran tumbuh 5,49%.
Program tersebut diharapkan dapat menghasilkan talenta yang sejak awal mendapatkan pendidikan khusus mengenai industri ritel, bukan hanya lulusan dari disiplin ilmu umum yang kemudian bekerja di sektor tersebut.

Kolaborasi APRINDO dan UBM juga tidak hanya menyasar mahasiswa atau calon fresh graduate. Peningkatan kompetensi pekerja yang sudah berada di industri turut menjadi bagian dari konsep pengembangan talenta tersebut.
Kehadiran pendiri sekaligus pelaku industri ritel Djoko Susanto juga dinilai dapat memperkuat pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman.
Pengalaman Djoko Susanto dalam membangun bisnis ritel selama puluhan tahun dinilai dapat menjadi living knowledge bagi mahasiswa. Dengan begitu, pembelajaran tidak hanya mengandalkan teori, tetapi juga pengalaman langsung dalam membangun dan mengembangkan bisnis ritel.
Berpeluang Jadi Retail Knowledge Hub
Solihin mengatakan konsep pengembangan talenta tersebut berpeluang diperluas secara nasional. Hal itu didukung jaringan anggota APRINDO yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Pembelajaran berbasis hybrid dinilai memungkinkan praktisi ritel dari berbagai daerah, mulai dari Surabaya, Medan, Makassar, Bali hingga Papua, ikut terlibat tanpa harus selalu hadir secara fisik di Jakarta.
“Dengan jaringan anggota APRINDO yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, program ini memiliki peluang untuk dikembangkan secara hybrid. Pembelajaran dan pengalaman industri tidak hanya terpusat di Jakarta, tetapi dapat menjangkau talenta-talenta dari berbagai daerah,” tuturnya.
Solihin menilai, jika dikembangkan secara konsisten, kolaborasi APRINDO dan UBM tidak menutup kemungkinan berkembang menjadi pusat pengetahuan ritel Indonesia atau Indonesia Retail Knowledge Hub. (Agu)































