Empat Mahasiswa Untirta Temukan Inovasi Sereal dari Talas Beneng

366
lebaran

Tangerang, Katakota.com- Empat mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta)  yang terdiri dari Fajri jurusan manajemen, Alviyan dari Ekonomi Pembangunan, Anggita dan Dian keduanya jurusan agroekoteknologi menemukan formulasi inovasi pangan berbahan dasar Talas Beneng berupa sereal yang dinamakan TB Cerefada.

Nama produk ini diambil dari singkatan Talas Beneng Cereal serta singkatan nama keempatnya.

Ketua Kelompok Anggita Pradhepti Welasih mengatakan, Talas beneng sendiri merupakan komoditas lokal Pandeglang, Banten yang saat ini sedang dipopulerkan sebagai icon Provinsi Banten. Dengan ciri khasnya yakni warna kuning alami, bobot yang bisa mencapai 40 kg selama 2 tahun serta mampu tumbuh secara liar tanpa perawatan khusus menjadikannya potensial sebagai substitusi pangan di masa depan.

PhotoGrid_1484395806863

“Produk sereal sendiri dipilih karena semakin berkembangnya zaman, serta saat ini masyarakat cenderung menyukai sesuatu yang instan,”ujarnya.

Alasan lainnya yang mendasari penemuan inovasi tersebut adalah sampai saat ini Indonesia masih import gandum sebagai bahan baku sereal, sedangkan akibat perubahan iklim menjadikan produksi gandum dunia semakin menurun. Maka dari itu diperlukan diversivikasi pangan lokal”

Dijelaskannya TB Cerefada dibuat secara sederhana dari tepung talas beneng, yang berdasarkan penelitian sebelumnya telah dilakukan oleh Anggita dan Dian dengan dosen pembimbing Tb. Bachtiar Rusbana. Penelitian ini juga sudah dipublikasikan dalam Prosiding Kongres Teknologi Nasional Komisi Pangan BPPT RI yang menyatakan bahwa tepung talas beneng dengan perlakuan khusus memiliki kadar karoten yang lebih tinggi.

Dalam prosesnya  tepung dicampur air dan pemanis alami ekstrak daun stevia lalu direbus uap panas. Setelah itu dioven dan dipotong sesuai selera. Untuk tahap akhir dilakukan penggorengan tanpa minyak sehingga produk low colestrol dan sehat.

“Diharapkan inovasi ini dapat menjadi upaya penganekaragaman olahan pangan lokal sehingga kita tidak selalu bergantung pada bahan baku import,”Ujarnya.
(Mad sutisna/KK).

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.