Tangerang, Katakota.com– Sejumlah perlintasan Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line Tangerang-Jakarta tampak memprihatinkan, banyak perlintasan liar yang masih belum dilengkapi palang pintu, rambu-rambu hingga sirene. Diantaranya perlintasan di sepanjang Jalan Benteng Betawi, di antara Stasiun Poris hingga Stasiun Tanah Tinggi.
Meski ada petugas yang sukarela dan dibayar swadaya oleh masyarakat sekitar untuk menjaga perlintasan tersebut, tetapi tak jarang terjadi kecelakaan. Perlintasan hanya dijaga oleh sebuah palang bambu kecil dan tak ada rambu, sehingga pengemudi kendaraan bermotor bebas melintas dan nekat menerobos apabila ada kereta yang hendak melintas.
Terakhir, kecelakaan maut antara mobil dan kereta terjadi di jalur perlintasan Stasiun Batu Ceper, Minggu (17/6/2018) lalu. Peristiwa nahas tersebut menelan tiga korban jiwa dan tiga orang lainnya luka berat. Diketahui, keenam korban tersebut merupakan sekeluarga yang tinggal di Gang Sawo I RT 03/05, Kelurahan Poris Plawad, Kecamatan Cipondoh.
Ketua Komisi IV DPRD Kota Tangerang, Turidi Susanto mengatakan, perlintasan itu merupakan akses jalan yang seringkali dilewati masyarakat khususnya warga Kelurahan Poris Plawad, mengingat tidak ada jalur lain menuju permukiman warga dari Jalan Benteng Betawi. Ia juga prihatin lantaran tidak ada petugas penjaga di perlintasan tersebut.
“Sebenarnya akses jalan tersebut bisa dan boleh saja ditutup, tetapi perlintasan itu akses masyarakat untuk keluar masuk permukimannya,” ujarnya di rumah duka korban kecelakaan maut Stasiun Batu Ceper, Senin (18/6/2018).
Selama ini, kata Turidi, perlintasan liar sangat membahayakan pengguna jalan karena tidak dilengkapi faktor keselamatan seperti palang pintu dan rambu-rambu.
“Petugas penjaga palang juga tidak ada, yang ada hanya petugas musiman yang sukarela karena peduli dengan para penyeberang. Saya sudah berbicara dan meminta kepada Kepala Stasiun Batu Ceper supaya ditempatkan petugas resmi untuk menjaga perlintasan tersebut,” ucapnya.
Menurutnya, sejumlah perlintasan liar yang dilengkapi maupun tidak dilengkapi dengan palang pintu lebih baik ditutup karena sangat membahayakan pengguna jalan.
“Saya pikir pintu liar sebaiknya ditutup, tetapi dengan catatan yang di dekat stasiun-stasiun itu dibuka dan jalannya harus dirapihkan, harus diberi rambu. Intinya semua faktor pendukung untuk memberi rasa aman,” tuturnya.
Ia berharap kejadian kecelakaan maut di Stasiun Batu Ceper yang menimpa satu keluarga ini adalah yang terakhir dan tak ada lagi kejadian serupa. Oleh karenanya ia meminta Pemkot untuk membantu membenahi pembangunan struktur dan infrastruktur perlintasan kereta.
“Kami meminta dan berharap pemerintah segera membantu membenahi perlintasan ini. Yang terpenting adalah bagaimana memberikan rasa aman kepada masyarakat, sehingga peran pemerintah dalam hal ini bisa memberikan efek aman. Kita sama-sama koreksi diri dan semoga kejadian ini yang terakhir, kita tidak boleh menyalahkan satu sama lain,” tandasnya.
Pada kesempatan itu, Turidi bersama Jasa Raharja juga memberikan santunan kepada para koban kecelakaan. Kepala Perwakilan Jasa Raharja Cabang Tangerang, Sulaiman mengatakan, Almarhum Nanang, Almarhumah Maryanah, dan Almarhumah Atun yang merupakan korban meninggal dunia dalam insiden kecelakaan itu masing-masing diberikan santunan senilai Rp 50 juta.
Sedangkan korban selamat yakni Dumyati, Dahwan dan Naura diberikan santunan biaya perawatan rumah sakit sebesar Rp 20 juta yang akan ditanggung Jasa Raharja. Saat ini korban selamat masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
“Seorang korban, Dahwan sudah bisa pulang dan biayanya di rumah sakit diganti oleh Jasa Raharja. Tetapi Naura dan Dumyati yang masih dirawat intensif di rumah sakit kita jamin sampai batas maksimal Rp 20 juta,” jelas Sulaiman.
Masyarakat yang menjadi korban kecelakaan, kata Sulaiman, baik luka-luka maupun meninggal dunia akan diberikan santunan oleh Jasa Raharja sebagai bentuk kepedulian kepada mastarakat.
“Jadi setiap orang yang mengalami kecelakaan kendaraan bermotor maupun kereta api itu mendapatkan santunan oleh Jasa Raharja, baik luka-luka maupun meninggal dunia,” terangnya.
Walau diberikan santunan, ia mengimbau masyarakat untuk tetap berhati-hati saat berkendara serta menggunakan alat keselamatan seperti helm bagi pengendara sepeda motor. Pasalnya, sejak H-8 hingga H+3 Lebaran, jumlah korban kecelakaan di Tangerang Raya mencapai 54.
“Ada 4 korban meninggal dunia karena kecelakaan dan 50 korban luka-luka. Jumlah ini hampir sama dengan tahun lalu, hanya selisih satu korban saja. Artinya terjadi penurunan, tetapi tidak signifikan,” paparnya. (Dit)



























