Kemen-PPA Gelar Rakortek Perlindungan Perempuan di Tangerang

46
Kemen-PPA Gelar rakortek perlindungan perempuan di tangerang,(adit/Katakota.com)

Tangerang, Katakota.com– Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Gelar Rapat Kordinasi Teknis Perlindungan Hak Perempuan (PHP) Kawasan Barat dan Timur Indonesia di Shantika ICE BSD Tangerang, Senin (7/5).

Kegiatan yanģ bertemakan Perlindungan Hak Perempuan yang Sinergis dan Berkelanjutan”. Merupakan kehadiran Pemerintah dalam mengatasi berbagai persoalan perempuan dan anak.

Hasil Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) Tahun 2016 yang dilakukan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) bekerjasama dengan Badan Pusat Statistik, bahwa satu dari tiga perempuan usia 15-64 tahun atau sekitar 28 juta perempuan pernah mengalami kekerasan fisik atau kekerasan seksual, baik dilakukan oleh pasangan maupun bukan pasangannya. Kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan dan anak akhir-akhir ini juga memiliki modus yang canggih dan tidak berperikemanusiaan.

“Maraknya kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak semakin menghawatirkan.  Selain menyentuh rasa kemanusiaan dan keadilan sosial, kekerasan terhadap perempuan dan anak juga dapat menimpa keluarga siapa saja, termasuk keluarga kita. Kejadian ini oleh Presiden disebut sebagai “darurat” kekerasan. Oleh karena itu, Rakortek ini diselenggarakan guna memperkuat komitmen antara Pemeritah Pusat dan Daerah dalam upaya perlindungan hak perempuan mulai dari pencegahan, penanganan, dan pemberdayaan,” ujar Deputi Perlindungan Hak Perempuan Kementerian PPPA, Vennetia R. Danes.

Upaya pemenuhan hak Perlindungan bagi anak, perempuan, dan kelompok marjinal sebenarnya sudah menjadi agenda prioritas dalam Nawa Cita. Hal ini dibuktikan dengan terbitnya UU No. 17 Tahun 2016 tentang Penetapan PERPPU No. 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Terkait permasalahan Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT), telah dilakukan Pembentukan Satgas Anti KDRT di tingkat Desa/Kelurahan, dan saat ini sedang  dibahas bersama Pemerintah dan DPR mengenai Rancangan UU Penghapusan Kekerasan Seksual.

Untuk mengatasi Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan UU Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (UU-PTPPO) dan akan meningkatkan kerja sama dengan negara yang tergabung dalam ASEAN dalam mencegah dan memberantas TPPO. Perlindungan juga diberikan kepada  perempuan dalam situasi darurat (situasi bencana dan konflik) dan kondisi khusus (lansia dan penyandang disabilitas) melalui ratifikasi Konvensi Mengenai Hak-Hak Penyandang Disabilitas dengan UU Nomor 19 Tahun 2011 tentang Pengesahan Convention On The Rights Of Persons with Disabilities, serta melakukan pengembangan model perlindungan lansia dalam rangka menuju lansia sehat, produktif, dan mandiri.

“Saya berharap, Rakortek kali ini mampu mendorong para pemangku kepentingan  untuk saling membantu, bersinergi dan bergandeng tangan agar kekerasan terhadap perempuan dan anak, perdagangan orang, dan kesenjangan ekonomi tidak lagi terjadi di Indonesia. Pemerintah juga perlu mengajak masyarakat, keluarga, media massa, dan dunia usaha untuk bertekad menghapus segala bentuk kekerasan seksual di masyarakat.  Mari awali langkah konkrit kita di masing-masing Provinsi dan Kabupaten/Kota. Saya juga menghimbau kepada masyarakat, khususnya kaum perempuan agar jangan takut melapor ketika menjadi korban kekerasan atau perdagangan perempuan, dan melihat kekerasan terhadap anak, karena Negara tegas melindungi perempuan dan anak,” tutup Vennetia.(dit)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

 

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.