Kisah Siti Patonah, Satu-satunya Komisioner Perempuan di Bawaslu Kota Tangerang

17
Siti Patonah salah satu komisioner Bawaslu Kota Tangerang/foto dok pribadi

Siti Patonah (39) satu-satunya perempuan yang menjabat komisioner di Bawaslu Kota Tangerang. Selain mewakili keterwakilan perempuan, kehadirannya menjadi potret Kartini masa kini di bidang kepemiluan.

Perempuan yang biasa disapa Syifa ini aktif di kepemiluan sejak masih mahasiswi. Ia pernah menjadi relawan pemantau, penyelenggara pemilu mulai dari KPPS hingga PPK bahkan di Kecamatan Cipondoh bertugas selama tiga tahun berturut-turut.

“Saya di Bawaslu sejak tahun 2018 saat itu sebelumnya menjabat sebagai PPK di Cipondoh. Sebagai penyelenggara saat itu pernah terlibat dalam Pilgub, dan Pilwalkot,” ujar dia.

Kehadirannya di Bawaslu merupakan upayanya dalam mengembangkan aktivitas kepemiluan.

Menurutnya, pemilu merupakan proses demokrasi dari rakyat oleh dan untuk rakyat, rakyat yang dimaksud bukan hanya laki-laki tetapi juga perempuan.

“Merujuk pemilu sebelumnya suara perempuan lebih banyak dari laki-laki namun keterwakilan dan partisipasi perempuan dalam bernegara khususnya dalam giat pemilu masih minim sementara Undang-Undang pemilu nomor 7 tahun 2017 mengatur 30 persen keterwakilan perempuan,” ujarnya.

“Selain mewakili keterwakilan perempuan saya ingin berkontribusi dalam proses pemilihan, baik sebagai penyelenggara maupun pengawas pemilu,” sambungnya.

Aktivitas di kepemiluan membuatnya belajar banyak serta mengetahui proses demokrasi di Indonesia khususnya Kota Tangerang.

“Bagaimana kekurangan, strategi apa yang harus di evaluasi, saya sangat senang banyak hal bisa diberikan dalam kegiatan demokrasi,” katanya.

Dalam sejarah Bawaslu Kota Tangerang Syifa menjadi perempuan pertama yang mewakili keterwakilan perempuan. Tentunya banyak pengetahuan dan pengalaman menarik yang diraihnya sampai saat ini.

“Mewakili perempuan yang bisa duduk sejajar diantara laki-laki tangguh dalam bidang pengawasan pemilu, ikut andil mengawasi tak hanya di jam kerja tetapi dari pagi ke pagi bahkan menjadi Bu Toyib yang jarang pulang ke rumah, juga pernah naik-naik ke atas pohon untuk melepas baliho,” tuturnya.

Seiring waktu ia mengakui pengetahuannya terus bertambah sebab memiliki kesempatan bertukar wawasan terkait regulasi Undang-Undang pemilu dengan para pakar hukum, kepolisian dan kejaksaan.

“Meski dari jurusan akuntansi belajar kembali sebagai tantangan baru, saya juga menambah teman dan saudara, lalu juga punya kesempatan menjadi narsum yang dapat menginspirasi perempuan lainnya,” paparnya.

Kemudian pengalaman menarik lainnya  ia turut berperan langsung, bertindak bahkan mengambil keputusan atas pelanggaran pemilu yang terjadi.

Dalam momentum hari Kartini Syifa mengajak perempuan untuk tak hanya menjadi mawar penghias taman tetapi harus bisa menjadi melati pagar bangsa.

“Seperti apa ? perempuan itu harus maju dan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat negara dan agama, apapun profesinya berikan kontribusi yang terbaik,” kata perempuan yang semasa kuliah aktif di organisasi PMII ini.

“Jika jadi ibu rumah tangga jadilah yang baik yang mendidik menginspirasi dan tauladan, jika aktif memiliki peran ganda maka manajerialkan waktu dan komunikasikan yang baik dengan pihak internal dan eksternal, ” sambungnya.

Kemudian perempuan masa kini harus mensyukuri perjuangan Kartini dengan berani mengeluarkan pendapat, berani tampil dengan kualitas positif yang dimiliki, bisa memberikan inspirasi dan memberdayakan perempuan lainnya.

“Terus berusaha menjadi perempuan yang lebih baik dengan berkarya, kreatif dan inovatif dalam bidang yang ditekuni,” ucap alumni UIN Jakarta ini.(Adit)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

 

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.