Kuliner Legendaris Uli Bakar Ciputat Dikunjungi Artis Sampai Pejabat

232

Merekam jejak kuliner di kawasan Pasar Ciputat yang kini masih banyak diburu oleh warga. Uli Bakar Ciputat namanya, telah melegenda sejak tahun 1981 lalu dan kini rasanya masih manyus.

Malam itu duduk bersama kawan-kawan, tak sedikit mereka besar di kawasan Ciputat sehingga paham betul perkembangan wilayah. Obrolan mengalir, mengambarkan kawasan Pasar Ciputat tempo dulu. Sesekali menyeruput kopi dengan cita rasa cukup menawan. Hitam, kental dan masih mengeluarkan asap saat diseruput. Ahhh sedappp.

Dua potong uli bakar aromanya amat mencekat, gurih dan garing. Tentu mengoda serasa ingin langsung disantap. Potongan uli disajikan di atas piring-piring kecil, atau bisa langsung mengambil di atas tungku. Ujang pria berusia 28 tahun yang telah berjualan sejak usia 11 tahun bersama sang ayah. Kini sang ayah genap berusia 71 tahun tinggal di kampung halaman.

Di antara kami, dijamu dengan berbagai minuman beda. Selain kopi kental hitam, ada kopi susu, kopi susu es, dan minuman penghangat lainnyaseperti teh manis panas. Demikian teman untuk minuman, selain uli bakar ada roti bakar juga mie rebus dengan harga cukup murah. Harga uli bakar per potong Rp 2 ribu, kopi susu Rp 4 ribu dan roti bakar Rp 5 ribu.

Ujang demikian sapaan orang-orang bercerita menemai malam semakin larut. Usaha uli bakar dimulai sejak tahun 1981 silam. Awal mula berjualan di depan Masjid Al Jihad, sekitar dua ratus meter dari tempat saat ini. Tempat yang dulu pernah diduduki selama puluhan tahun, kini bakal dibangun tugu Ciputat oleh Pemkot. Pada tahun itu, belum ada plaza dan flyover. Terminal dekat pasar masih beroperasi.

Sang ayah yang kini usinya 71 tahun setiap malam berjualan, dalam satu malam menghabiskan 12 liter ketan, 2 dus mie instan dan 5 bantal roti tawar. Suasana saat malam, puluhan pedagang berjejer di depan masjid sepanjang mata memandang barbagai menu makanan. Namun pemandangan itu kini telah jadi kenangan.

Penghasilan pun cukup banyak. Namun tantangan juga berat, sebab hampir setiap malam, menjelang pagi pukul 03.00 WIB banyak orang datang sambil mabok lalu memesan makan dan minum pergi tanpa pernah membayar. Berbeda dengan kondisi saat ini, yang demikian sudah tidak ada lagi.

Sesekali  Ujang menerawang sambil mengipas uli di atas tungku bara, rasanya ingin kembali pada masa lalu. Saat mengingat semangat berdagang dengan hasilan cukup baik. Jika dibandingkan saat ini, jelas jauh berbeda. Hari-harinya, hanya mampu menghabiskan ketan 6 liter untuk menjadi 120 potong uli bakar dijual Rp 2 ribu per potong berikut bumbu gula dan serundeng goreng.

“Dulu, 2 dus mie instan per malam, kini hanya satu dus itupun jarang habis. Termasuk roti, yang dulu mencapai 5 bantal roti tawar, kini dua bantal roti pun kadang tidak habis. Entah mengapa perubahan cukup dirasakan belakangan ini,” tutur Ujang suaranya lirih.

Lalu ia mengingat kembali masa lalu. Paling tidak seingat Ujang, dagang mulai kendor, sejak harga uli bakar naik, dari harga Rp 500 per potong, naik menjadi Rp 1000 lalu Rp 2 ribu. Sejak itulah banyak yang komplian. Jika tidak dinaikkan, tentu tidak dapat untung sementara harga ketan per liter Rp 20 ribu.

Kini harga ketan per liter paling murah di angka Rp 18 ribu, standarnya Rp 19 ribu perliter. Jika dibandingkan dengan beras harga Rp 8 ribu kualitas super, maka tiga liter beras setara dengan satu liter ketan. Namun apapun itu tetap dijalani. Itulah lika liku usaha. Ditambal lagi saat ada relokasi pedagang oleh Satpol PP ketiga ada pembangunan flyover sekitar tahun 2008 silam.

Meski saat ini lebih tenang, tidak bersingungan dengan Satpol PP, namun bebanya juga bertambah, harus membayar uang sewa Rp 7 juta per tahun untuk menyewa lapak berkurungan tidak terlalu besar. Loaksinya di belakang pedagang buah atau persis bersebrangan dengan pintu masuk  ke masjid Al Mujahidin Ciputat.

Pembeli masuk areal parkir, adanya sebelah kanan. Meski tidak ada papan nama, Uli Bakar Ciputat namun sudah banyak orang mengenalnya. Lokasinya tak pernah septi, baik pagi hingga malam. Usahanya itu buka selama 24 jam, sistim jualannya apluas, ada yang pagi hingga sore dan malam hingga pagi.

Ujang, berperawakan tinggi, berhidung mancung dan berkulit bersih, sosoknya lembut dan kalem namun ramah terhadap pembeli. Usahanya itu adalah warisan sang ayah yang telah merintis sejak puluhan tahun silam.

Terkadang Ujang, merasa jenuh ingin kerja di tempat lain. Namun karena usianya sudah tidak memungkinkan, ia pun mengaku pasrah. Setiap dua bulan sekali ia harus pulang kampung apluas atau gentian dengan mamang atau paman untuk berjualan.

“Sudah dua bulan ini saya begadang terus, badan sudah mulai capek. Kami biasa dua bulan gentian dengan mamang kam. Sambil menunggu mamang datang dari kampung, kami nanti pulang. Demikian terus seperti itu,” tuturnya tersenyum.

Penikmat Uli bakar Ciputat, dari mulai masyarakat biasa, lurah, camat, anggota dewan hingga para artis.

“Banyak pejabat menikmati uli bakar dan kopi, termasuk beberapa artis datang membeli,” tukasnya. (Dit)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.