Kemacetan di Jakarta kembali menjadi momok bagi warga ibu kota. Pada Rabu (24/9/2025) malam, arus lalu lintas di kawasan Slipi, Jakarta Pusat, benar-benar lumpuh.
Ribuan kendaraan tertahan berjam-jam, bahkan penumpang transportasi umum seperti Transjakarta terpaksa mengambil langkah ekstrem, yakni dengan turun di tengah tol dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Salah satu penumpang yang merasakan pahitnya kemacetan itu adalah Suhada (25). Ia menumpangi bus Transjakarta rute T31 PIK 2-Blok M sekitar pukul 17.30 WIB. Awalnya perjalanan masih lancar, tetapi setibanya di kawasan Grogol, arus lalu lintas mendadak tersendat parah.
“Tahu-tahunya itu macet dari Grogol sampai ke Semanggi full merah (di Google Maps),” cerita Suhada.
Karena tidak kebagian tempat duduk, Suhada berdiri berjam-jam di dalam bus. Hingga pukul 20.00 WIB, perjalanan nyaris tidak bergerak.
Rasa frustrasi membuat ia bersama beberapa penumpang lain akhirnya turun di kawasan Slipi Kemanggisan, meski tanpa halte resmi. Dari sana, mereka berjalan kaki menembus tol menuju jalan arteri hingga Petamburan.
“Saya sama orang-orang pada turun di Slipi Kemanggisan terus jalan kali sampai Petamburan,” katanya.
Ternyata, bukan hanya penumpang Transjakarta yang memilih turun. Suhada melihat banyak orang melakukan hal serupa, termasuk penumpang kendaraan pribadi maupun taksi daring.
“Hampir semua (penumpang) yang berdiri itu turun, dari TJ lain juga sama. Bahkan ada penumpang Grab/Go-Car yang keluar sambil bawa koper jalan kaki di pinggir tol,” jelasnya.
Pemandangan itu menjadi bukti betapa parahnya kemacetan Jakarta malam itu. Berjalan kaki di tol dianggap lebih cepat ketimbang bertahan di kendaraan yang tak kunjung bergerak.
Setelah berjalan kaki sekitar 1 kilometer, Suhada tiba di Petamburan. Namun, kesulitannya belum berakhir. Usaha memesan ojek online (ojol) berkali-kali gagal karena pengemudi menolak order akibat kondisi jalan yang macet total.
“Pesan ojol juga pada dibatalkan, pada enggak mau antar karena kondisinya macet. Jadi, tadi yang jalan kaki banyak banget,” ungkapnya.
Ia baru bisa mendapatkan ojek sekitar pukul 21.00 WIB, hampir 3 jam sejak berangkat dari PIK. Suhada menyebut pengalaman ini sebagai salah satu perjalanan paling melelahkan sekaligus menyedihkan selama tinggal di Jakarta.
Kejadian ini bukan yang pertama. Kemacetan Jakarta memang sudah lama menjadi persoalan kronis, terutama di titik-titik rawan, seperti Slipi, Grogol, Semanggi, dan Sudirman. Faktor penyebabnya beragam, mulai dari volume kendaraan berlebih, proyek infrastruktur, hingga kecelakaan lalu lintas.
Source: Beritasatu.com


























