Petani Muda Terus Tergerus

70
ilustrasi

Jakarta, KataKota – Lahan pertanian yang semakin sempit menjadi salah satu ancaman serius dalam program swasembada pangan di Indonesia. Sempitnya lahan pertanian juga disebabkan oleh masifnya pembangunan permukiman yang merangsek ke lahan pertanian produktif. Namun ternyata ada ancaman lain yang cukup serius, yakni pekerjaan bertani yang tidak digemari masyarakat, khususnya anak muda. 

“Profesi petani yang semakin tidak diminati generasi muda petani saat ini menjadi menjadi ancaman serius bagi program swasembada pangan karena petani lah ujung tombak program swasembada pangan,” kata peneliti Merapi Cultural Institute (MCI) Agustinus Sucipto, seperti diwartakan Republika.co.id, Ahad (14/5). 

Selain memperhatikan infrastruktur, pemerintah seharusnya melirik sumber daya manusia (SDM) yaitu petani dan terlebih generasi penerusnya. Alumnus Ilmu Filsafat di STFT Widya Sasana Malang ini mengatakan perubahan paradigma sangat dibutuhkan agar stigma petani sebagai profesi rendahan atau sudra berubah menjadi lebih baik di generasi muda petani. Salah satu pendekatannya yaitu lewat budaya.

Festival-festival yang bertemakan keunggulan pertanian dan pameran pertanian secara tidak langsung akan mempengaruhi pandangan masyarakat dan petani. Dengan begini, generasi muda akan merasa bahwa keberadaan petani dihargai. 

Penyuluhan pertanian yang selama ini menitikberatkan pada optimalisasi hasil pertanian, perlu digeser ke penyuluhan mental petani. “Petani dan generasi muda hendaknya dibuat bangga akan profesi mereka yang menjadi salah satu penggerak roda perekonomian bangsa dan menjadi ujung tombak swasembada pangan,” kata Agustinus. (Eky/KK)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

 

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.