Romantisme Orde Baru dan Soeharto Baru Bisa Dibuktikan Saat Pemilu

11
Tomy Soeharto, Dok: Liputan6.com
Tomy Soeharto, Dok: Liputan6.com

Jakarta, Katakota.com — Partai Beringin Karya (Berkarya) yang dibesut langsung oleh putra Presiden Ri ke-2 Soeharto, Hutomo Mandala Purtra atau lebih dikenal dengan Tommy Soeharto berhasil masuk sebagai salah satu partai politik peserta Pemilu 2014. Partai yang menempatkan nama Tommy Soeharto sebagai ketua dewan pembina ini mendapat nomor urut tujuh.

Partai Berkarya menjual sosok Soeharto untuk meraup suara. Partai ini berharap bisa menarik pemilih yang merindukan zaman keemasan Soeharto dengan stabilitas politik, keamanan dan ekonomi. Sebagai putra bungsu, figur Tommy Soeharto diyakini bisa menarik massa pemilih.

Beberapa hari setelah penetapan parpol peserta pemilu 2014, Google mencatat, Partai Berkarya dan Partai Garuda paling banyak dicari publik di mesin pencari. Namun, ini tidak serta merta diinterpretasikan bahwa publik merindukan romantisme orde baru.

Pengamat politik UIN Jakarta, Gun Gun Heriyanto melihat, publik hanya diliputi rasa penasaran dengan kehadiran dua partai baru yang selama ini tidak pernah terdengar namanya.

“Saya melihat karena orang penasaran saja. Saya lihat Partai Berkarya dan Partai Garuda yang paling dicari. Orang penasaran saja, orang di belakang partai. Tidak otomatis menggambarkan romantisme orde baru,” ungkap Gun Gun saat berbincang dengan merdeka.com, Senin (26/2).

Romantisme rakyat Indonesia terhadap orde baru belum bisa dibuktikan. Termasuk melalui hasil survei yang pernah dilakukan beberapa waktu lalu. Pada 2011, lembaga survei Indobarometer mewawancarai 1200 orang di Jakarta. Hasilnya, 36,5 persen memilih Soeharto sebagai presiden paling disukai. Di urutan kedua ada nama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang dipilih 20,9 persen responden. Survei itu juga menyebut 40 persen responden lebih suka Orde Baru dibandingkan Orde Lama dan Reformasi.

“Menurut saya, romantisme orde baru (era Soeharto) itu baru bisa dibuktikan di Pemilu. Apakah partai yang ‘menjual’ itu lolos parlementary threshold (PT) atau tidak,” katanya.

Tidak mudah membuktikan bahwa romantisme orde baru laku dijual untuk meraup suara. Gun Gun masih ingat pada 2014, ada partai yang menjual romantisme orde baru dan sosok Soeharto. Yakni Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) yang digawangi oleh putri Soeharto, Siti Hardiyanti Rukmana atau Mbak Tutut. Namun partai ini tidak lolos sebagai peserta pemilu. Begitu pula dengan Partai Nasional Republik (Nasrep) yang pernah digagas Tommy Soeharto sebelum membentuk Partai Berkarya.

Gun Gun melihat ada elite-elite politisi yang masih percaya ada ceruk suara publik yang merindukan romantisme masa lalu. Tapi pada kenyataannya harus diakui bahwa itu tidak sepenuhnya benar. Dua Pemilu terakhir yakni 2009 dan 2014 memperlihatkan itu.

Menurut GunGun, kalaupun ceruk pemilih yang rindu orde baru sangat signifikan, pasti akan dikapitalisasi oleh partai besar yang sudah lama membawa panji-panji itu.

“Tapi kita lihat Golkar menjauh dan tidak ingin lagi diidentikan dengan Soeharto. Golkar hari ini tidak membawa narasi Soeharto. Golkar justru sekarang Jokowi,” ucapnya.

Menurutnya, seharusnya partai politik tidak berorientasi masa lalu. Sebab, saat ini publik berpikir persoalan kebangsaan hari ini dan di masa depan. Bukan lagi bicara romantisme masa lalu. Dia menduga, romantisme akan zaman Soeharto itu sesungguhnya semu. Kerinduan akan stabilitas keamanan, politik dan ekonomi tidak lantas bisa jadi modal besar bagi partai yang membawa kembali panji-panji masa keemasan orde baru.

“Asumsi saya, ceruk yang rindu masa orde baru tidak signifikan. Itu asumsi saya,” ucapnya.

 

Sumber   : Merdeka.com

Uploader   : Cecep R./Kk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.