Sejumlah Perilaku Baik Menghadapi Pandemi

9
Gita WIdya Laksmini Soerjoatmodjo, M.A., M.Psi., Dosen Program Studi Psikologi Universitas Pembangunan Jaya (UPJ) Bintaro

Setelah satu tahun lebih hidup kita jungkir balik akibat pandemi Covid-19, kini pemerintah pusat maupun daerah kembali mengeluarkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat berbasis mikro (PPKM Mikro). Saat ini kita menjalani PPKM Mikro ditengah bombardir informasi tentang peningkatan kasus, disinyalir akibat peningkatan mobilitas kerumunan libur Lebaran. Sebagian masyarakat berlomba mengejar vaksin, sebagian sudah keburu kehabisan waktunya di dunia – dimana sebagian dari kita pun harus menderita kehilangan di lingkaran terdekat.

Apa yang bisa kita lakukan dalam situasi ini? Berikut nukilan singkat sejumlah penelitian terkini di bidang Psikologi untu membantu menghadapi tantangan. Semakin tinggi rasa takut kita terhadap pandemi Covid-19, semakin lemah pula kemampuan kita memaklumi ketidakpastian (uncertainty intolerance). Penelitian Bakioglu, Korkmaz dan Ercan (2020) menyarankan agar ketidakpastian tersebut perlu diatasi, antara lain memperbanyak pengetahuan tentang hal-hal yang dipandang relatif ajeg – seperti informasi tentang peran asupan vitamin terhadap imunitas tubuh dan implementasi protokol kesehatan; karena harapannya kecemasan ikut menurun seiring perjalanan waktu. Maka mengikuti perkembangan terkini dengan konsentrasi pada mitigasi risiko dapat membuat seseorang lebih berdaya, menurunkan ketakutan serta lebih tenang menghadapi situasi ini. Masih terkait dengan hal tersebut, rasa percaya (trust) terkait sumber informasi pun mempengaruhi, utamanya pada perilaku individu untuk menimbun barang karena takut kehabisan (hoarding). Pemikiran dan perasaan yang difokuskan pada aspek pencegahan dampak Covid-19 serta penurunan kecemasan akan terjadi apabila seseorang mampu membangun keyakinan pada sumber informasi otoritatif (Jovancevic & Milicevic, 2020).

Lebih jauh lagi, Arslan dan Yildirim (2020) meneliti bahwa apabila seseorang ternyata mampu merumuskan makna hidup yang ia jalani saat ini (meaning in life) sembari tetap optimis, manakala seseorang mampu membangun pemahaman utuh serba selaras tentang untuk apa ia hidup, apa saja pencapaian duniawi maupun ilahiah yang telah ia perjuangkan, maka semua itu mendukung pencapaian kesehatan mental yang lebih baik. Vox, Habibovic, Myklicek, Smeets dan Mertens (2021) meambahkan bahwa individu yang menjalani hari-hari ini dengan kesadaran penuh (mindful) serta punya bekal pengalaman bangkit dari peristiwa kegagalan (resilience) untuk mereka bangkitkan dari memori dibilai punya faktor kepribadian protektif yang berpotensi melindungi mereka dari gelombang kecemasan.

Bercermin pada temuan di atas, apa yang kita bisa petik? Memperkaya diri dengan informasi sahih terutama dari sumber resmi serta melakukan refleksi diri tentang makna hidup yang hakiki bisa jadi cara-untuk dicoba manakala kita seolah terengah-engah mendengar gempuran berita buruk. Hal ini berresonansi dengan penelitia Leslie-Miller, Waugh dan Cole (2021) yang menunjukkan bahwa jika seseorang dapat menjalani keseharian seraya mengantisipasi bahwa kelak ia akan bisa kembali mengalami rangkaian peristiwa yang ia pandang positif, maka emosi pun terangkat lebih positif – dimana kondisi ini bisa bertahan sampai sekian hari ke depan. Sekalipun tampaknya harapan-harapan seperti ini masih serba kabur, apalagi di saat kita merasa terjebak di rumah saja, tetapi kita tetap boleh untuk sesekali berandai-andai bahwa satu hari nanti semua akan kembali baik-baik saja dan apa yang kita harapkan kelak akan terjadi.

Di sisi lain, kita kerap melihat bagaimana sebagian dari masyarakat tenggelam dalam main salah-salahan (blame game): menyalahkan pemerintah, menyalahkan pemudik, menyalahkan aparat – intinya semuanya yang ada di kolong langit ini tak ada yang benar. Sekalipun perilaku seperti ini merupakan upaya mengendurkan ketegangan akibat stress berkepanjangan, Kumar dan Nayar (2020) menyarankan agar stigmatisasi apalagi sampai diskriminiasi tak jadi pilihan karena toh tak banyak membantu kita mencapai kesehatan mental.

Justru rekomendasi yang diberikan adalah agar kita memperkuat intensi membantu orang lain (prosocial behavior). Menurut temuan Saetrovik (2021), justru dengan cara ini keyakinan akan adanya kekuatan kolektif agar kita bisa mengatasi ini bersama-sama semakin terbangun. Bercermin pada kesimpulan penelitian Drury, Reicher dan Stott (2020) tentang psikologi kolektif, banyak situasi darurat justru berhasiil diatasi bersama dengan solidaritas dan kerjasama, bukan dengan mementingkan diri sendiri, tak peduli orang lain dan bereaksi berlebihan.

Jadi, apakah kita sebaiknya tetap optimis? Penelitian-penelitian di atas menyarankan demikian. Ada baiknya kita tetap berkeyakinan bahwa hal-hal baik itu ada – baik di dalam diri kita sendiri maupun di antara kelompok masyarakat kita, pada saat ini maupun nanti di masa depan. TOh ternyata hal ini bisa membawa pada kondisi kesehatan mental yang lebih baik.

Di sisi lain, kita juga perlu seksama agar tidak tergelincir melakukan bias optimisme (optimism bias). Mereka yang sarat bias optimisme ini meyakini bahwa apabila diri mereka dibanding-bandingkan dengan orang lain, mereka punya kemungkinan lebih kecil untuk mengalami hal-hal buruk akibat pandemi – entah karena tak punya komorbiditas, masih muda usia, maupun hal-hal lain yang diyakin membuat mereka seolah kebal virus (Druica, Musso, Ianole-Calin, 2020). Orang-orang seperti ini yakin bahwa mereka pasti baik-baik saja, tak terlalu kuatir karena mereka percaya bahwa ya sudahlah mengalir saja, kalapun nanti terpapar ya nanti toh semua akan ada jalannya – entah apa jalan itu, sudah tenang saja, seketemunya saja nanti (Kuper-Smiet, Doppelhofer, Oganian, Rosenblau dan Korn, 2020). Mereka yang sesat pikir seperti ini cenderung memiliki persepsi risiko yang terdistorsi. Penelitian Pascual-Leon, Cattaneo, Pacia, Solana, Tormos dan Bartres-Faz (20210 menemukan bahwa justru mereka inilah yang kerap kendor mempraktikkan protokol kesehatan, gara-gara punya keyakinan yang tak ada dasarnya.

Perkembangan terakhir menetapkan PPKM Mikro sampai 5 Juli 2021 ke depan. Apakah yang terjadi setelah itu? Apakah situasi membaik? Apakah PPKM Mikro ini justru akan diperpanjang? Kita boleh jadi tidak tahu sampai nanti hari H nanti. Namun setidaknya kini kita punya bekal tambahan bahwa ada sederetan perilaku baik yang masih dapat kita lakukan menghadapi situasi serba tak pasti ini.

Oleh : Gita WIdya Laksmini Soerjoatmodjo, M.A., M.Psi.,

Dosen Program Studi Psikologi Universitas Pembangunan Jaya (UPJ) Bintaro

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

 

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.