Wamenkes: Bio Farma Harus Tekan Harga, Biar Vaksin asal Indonesia Mendunia

1

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono meminta Bio Farma agar harga vaksin produk mereka terjangkau oleh masyarakat. Menurutnya, salah satu tantangan pasar global di bidang kesehatan saat ini adalah harga vaksin masih mahal.

“Tantangannya global tentu masalah harga. Kalau Bio Farma bisa menekan harga lebih ekonomis maka akan menjadi salah satu kompetitor buat bisa mendunia dan menjual vaksin. Tidak hanya untuk kebutuhan di Indonesia, tapi untuk kebutuhan di internasional,” katanya dalam pertemuan ke-26 Developing Countries Vaccine Manufacturers Network (DCVMN) di Bali, Rabu (29/10).
Menurutnya, negara-negara berkembang, termasuk Indonesia seharusnya bisa memproduksi harga vaksin terjangkau tanpa menggantungkan diri dengan negara maju. Apalagi, Indonesia melalui Bio Farma mampu memproduksi vaksin COVID-19 dan mengekspor vaksin polio. Vaksin polio telah diekspor ke 150 negara.
Selain itu, WHO telah menetapkan sejumlah vaksin produksi Indonesia telah memenuhi standar internasional dalam hal kualitas, keamanan, dan efikasi.
“Industri vaksin di Indonesia salah satunya adalah industri vaksin yang sangat kompetitif dan bisa memimpin karena kita mempunyai PQ WHO (sertifikasi keamanan, kualitas dan efikasi) untuk beberapa vaksin. Jadi kita nanti akan berusaha untuk tidak saja memproduksi untuk kebutuhan di Indonesia, tapi juga untuk ekspor,” katanya.
Merespons hal ini, Direktur Utama (Dirut) PT Bio Farma Shadiq Akasya, menekan harga produksi vaksin bukan hal mudah. Sebab, hal ini berkaitan dengan teknologi.
Salah satu contohnya adalah Bio Farma bekerja sama dengan perusahaan farmasi multinasional Amerika Serikat, yaitu Merck Sharp & Dohme (MSD) untuk memproduksi vaksin kanker serviks. Sehingga, harga vaksin masih mengikuti MSD.
“Contohnya untuk kanker serviks. Kita kerja sama dengan MSD. Jadi, harga yang menentukan dari MSD . Namun, untuk kepentingan program nasional dalam kapasitas tertentu, biasanya memberikan harga yang berbeda. Kalau kita datang ke RS atau klinik untuk melakukan vaksinasi untuk kanker serviks itu pasti akan berbeda harganya,” katanya.
Shadiq mengatakan, pihaknya akan berusaha menciptakan vaksin dengan harga yang lebih murah agar bisa dijangkau oleh masyarakat.
“Yang dikatakan Pak Wamenkes mungkin ini adalah concern dari kami juga bagaimana untuk menciptakan produk-produk yang lebih affordable dari sisi harga untuk bisa lebih dijangkau untuk kepentingan program pemerintah ataupun program komersial,”
“Kami juga terus melakukan improvement dari kualitas produk, teknologi supaya kita bisa membuat produk yang baru kemudian yang lebih affordable untuk dijual,” sambungnya.
Beberapa vaksin yang diproduksi Bio Farma adalah vaksin Jerap Td untuk pencegahan difteri, tetanus dan vaksin untuk imunisasi dasar. Contoh lainnya adalah vaksin COVID-19.
Source: Kumparan.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.