Tangerang, Katakota.com– Ratusan pembatik mengikuti uji kompetensi profesi batik yang difasilitasi oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) bersama Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP). Kegiatan itu turut diikuti oleh peserta dari Kampung Batik Kembang Mayang Kota Tangerang.
Kasubdit standarisasi dn sertifikasi profesi direktorat harmonisasi, regulasi dan standarisasi pada Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Budi Triwinanta mengatakan melalui uji kompetensi sebagai dasar untuk menyatakan kompeten dibidangnya atau tidak. Program tersebut membantu pengrajin meningkatkan kualitas dan kemudahan dalam pekerjaannya.
“Kami memfasilitasi pelaku ekonomi kreatif untuk saat ini di Tangerang di bidang batik dengan seratus peserta yang mayoritas berasal dari Tangerang,” ujarnya di Hotel Novotel, Kamis (9/8).
Ia menjelaskan selain batik juga mengadakan uji kompetensi di bidang lainnya seperti musik, dan Barista. Kedepan di Indonesia seluruh profesi diwajibkan memiliki sertifikasi guna membuktikan kompetensinya.
“Diluar negeri semua sudah bersertifikasi, contohnya sekaliber Bimbo ditolak manggung di Den Haag karena tak memiliki sertfikasi, sekarang di Indonesia sudah memulai pelan-pelan seperti Guru juga dosen harus sertifikasi,” paparnya.

Sementara Direktur LSP Subagio mengatakan, ada tiga komponen penilaian dalam uji kompetensi batik yakni meliputi pengetahuan, keterampilan dan sikap. Ketiganya harus dipenuhi oleh peserta agar dinyatakan lulus.
Walaupun dia pandai tapi kalau dua komponennya tidak terpenuhi maka tidak akan lulus,” ujarnya.
Pengelola Kampung batik Kembang Mayang, Budi Darmawan mengatakan, Sebanyak 45 pembatik dari Kota Tangerang mengikuti uji kompetensi yang difasilitasi oleh Bekraf. Sebelumnya Kampung batik kembang Mayang sudah memiliki 4 orang pembatik yang bersertifikasi.
Ia berharap dengan semakin banyaknya pembatik yang memiliki sertifikasi maka semakin mempercepat tumbuh kembang batik di Kota Tangerang. Sebab dengan sertifikasi yang dimiliki mereka dapat melatih masyarakat yang ingin belajar membatik.
“Harapan kami setiap Kecamatan memiliki pembatik yang bisa kembali mengedukasi masyarakat,” ujarnya.(dit)




























