Cerita Ika, penyintas covid-19 sembuh dengan isolasi mandiri

10
Ika Harum Prihanti /dok

Ika Harum Prihanti warga kecamatan Pinang salah satu penyintas Covid-19 yang berhasil sembuh melalui isolasi mandiri. Ika menceritakan pengalaman saat dirinya terpapar covid-19.

“Saya kurang tahu pasti dari mana terpapar covid-19, sebelum positif bolak-balik Tangerang-Cilegon, saat perjalanan saya sering makan ditempat, ada juga sempat ngumpul bareng temen,” ujarnya

Ika menjelaskan, ditempatnya bekerja dirinya merupakan orang yang pertama kali terpapar. Setelah mengetahui positif temen-temen yang kontak dengannya pun ditracing dalam kurun waktu 14 hari kebelakang.

“Diketahui ada 9 orang hasil swabnya positif,” katanya.

Ika yang bekerja sebagai PNS di Pemkot Cilegon ini tak menyangka gejala tipes yang pernah dialami merupakan gejala dirinya terjangkit Covid-19.

“Dalam seminggu gejalanya bertahap, pertama kali sakit punggung panas dan nyeri banget. Saat itu suhu normal 36.6 derajat lalu minum parasetamol, ketika bangun badan semakin jadi sakitnya, kepala pusing, mual, muntah, badan bangun sempoyongan, makan pun tidak ada rasanya, saya memutuskan ke UGD karena seharian tidak ada makanan masuk dan makin sakit,” paparnya.

Dua hari kemudian sakit yang dirasakannya berkurang namun masih tidak nafsu makan, Ika pun melakukan tes rapid dan swab tes karena memiliki riwayat masuk UGD dan bolak-balik ke zona merah.

“Keesokannya makan sudah ada rasanya badan sudah terasa enak tapi muncul batuk sama tenggorokan agak gatal dua hari berikutnya sudah tidak terasa sakit di hari berikutnya hasil swab menyatakan positif Covid-19,” katanya.

Setelah dinyatakan positif Covid-19 Ika memutuskan untuk melakukan isolasi mandiri di rumah sebab sudah tidak merasakan sakit di badan namun tetap mendapatkan obat dan konsultasi dari dokter paru.

Selama isolasi mandiri aktivitas di rumah dilakukan seperti biasa saja.

“Selama isolasi tak pernah lepas masker, kecuali tidur. Pintu rumah dan jendela pun dibuka untuk sirkulasi udara. Setiap Jam 10 berjemur sekitar 20 menit sambil nonton, lalu  olahraga 15 menit. Makan tinggi protein,”ujarnya.

Ika pun mendapatkan vitamin dari petugas kesehatan yang bertugas memantau perkembangan kesehatannya setiap hari.

“Saya minum obat sampai 10 hari karena masih ada batuk,” katanya.

Ika menjelaskan, masyarakat disekitar rumahnya turut mendukung isolasi mandiri yang dilakukannya.

“Warga mendukung mulai membantu membeli  kebutuhan pokok dan dukungan moral jadinya tidak merasa seperti sedang isolasi,”ujar dia.

Total 3 minggu menjalani isolasi dengan hasil swab menyatakan negatif covid-19 ditambah hasil rontgen menerangkan tidak ada flek di paru-paru.

Sebagai seorang yang pernah terpapar Covid-19 Ika mengimbau masyarakat agar lebih peduli dengan kondisi kesehatan saat ini.

“Terus terapkan protokol kesehatan dimanapun berada. Terutama 3M memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan,” ujar Ika.

Kemudian bagi yang sedang menjalani pengobatan ataupun isolasi Ika meminta agar tetap semangat.

“Jangan stres dibawa enjoy aja memang agak berat tetapi tetap paksakan agar imun Kita ga drop,”ujarnya lagi.

Ditambahkannya, bagi masyarakat yang disekitarnya terdapat pasien Covid-19 untuk tidak menganggap sebagai aib.

“Karena toh mereka juga ga tau akan terpapar covid-19. Dukung moral dan materi,karena dukungan masyarakat sangat membantu biar ga merasa kesepian dan stres,” ujarnya.

Setelah pasien Covid-19 sembuh mereka dapat beraktivitas kembali seperti biasa.

“Setelah sembuh jangan dijauhi orangnya tetapi jauhi penyakitnya,” tutur Ika. (adit)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.