Ketika Ahok Bicara soal Saingannya dalam Pilkada 2017

17
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama saat melantik Kepala Kanwil Regional (Kanreg) V Badan Kepegawaian Negara (BKN) DKI Jakarta I Nyoman Arsa dan ratusan pimpinan tinggi pratama, administrator, dan pengawas di lingkungan Pemprov DKI Jakarta, di Balai Kota, Jumat (4/9/2015).

JAKARTA, KOMPAS.com — Nama-nama orang yang bakal diusung menjadi gubernur DKI Jakarta pada pemilihan kepala daerah (pilkada) untuk tahun 2017 mulai bermunculan di tengah publik. Nama-nama tersebut mulai dari Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini; Wali Kota Bandung Ridwan Kamil; Wakil Ketua DPRD DKI Abraham Lunggana; tokoh Betawi, Biem Benyamin; hingga pengusaha yang juga anggota Dewan Pembina Partai Gerindra, Sandiaga Uno.

Basuki Tjahaja Purnama sendiri memastikan akan kembali maju mencalonkan diri sebagai gubernur DKI. “Saya harus maju pada pilgub tahun 2017 untuk membuktikan saya bisa atau tidak dipilih rakyat,” kata Basuki beberapa waktu lalu.

Basuki tak menganggap remeh nama-nama calon gubernur yang mengemuka ke publik. Bahkan, jika tokoh-tokoh itu lebih jujur dan lebih baik, Basuki meminta warga untuk tidak memilih dirinya.

Sandiaga Uno misalnya, menurut Basuki, layak memimpin Ibu Kota. Sandiaga, kata dia, juga sempat dicalonkan mendampingiJoko Widodo dalam Pilkada DKI 2012. Namun, akhirnya Basuki yang dipilih mendampingi Jokowi.

“Bagi saya tuh lebih baik kalau banyak orang yang dianggap bagus dan hebat untuk ikut (Pilkada DKI) supaya orang Jakarta punya pilihan. Jadi, istilah bahasa kampungnya, best of the best, bukangood from the worst,” kata Basuki.

Keberhasilan Jokowi-Basuki menjadi pemimpin di Jakarta, kata dia, membuka peluang bagi semua kepala daerah untuk menjadi gubernur dan wakil gubernur Jakarta. Warga Jakarta, kata dia, sudah semakin pintar untuk memilih pemimpin yang berkualitas. Mereka memilih berdasarkan rekam jejak, pengalaman, kejujuran, kerja keras, serta transparansi.

“Kalau semua aspek itu yang Anda jual, ada harapan, Anda laku di Jakarta. Itu yang kami harapkan. Jadi, orang Jakarta pilihannya banyak,” kata Basuki.

Sementara itu, calon gubernur-wagub yang hanya menjual soal suku, agama, ras, dan golongan tertentu akan semakin dijauhi masyarakat. Hal itu telah dibuktikan Basuki dalam Pilkada DKI 2012. Jokowi-Basuki yang berasal dari Solo dan Belitung Timur serta warga minoritas berhasil mengalahkan pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli yang merupakan calon petahana sekaligus warga asli Betawi.

“Orang Jakarta itu enggak bodoh. Saya sudah buktikan waktu lawan Fauzi Bowo yang duit (modal kampanye) banyak, pengalaman birokrasi, jual Betawi; harus melawan Jokowi yang orang Jakarta enggak kenal, apalagi pasangan sama Ahok (Basuki) yang orang Jakarta juga tambah enggak kenal lagi,” kata Basuki.

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.