Polisi hingga kini masih terus melakukan penyidikan terkait ledakan yang terjadi di SMA Negeri 72 Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara. Dalam kejadian itu, puluhan orang menjadi korban.
Pantauan di lokasi, Sabtu (8/11/2025), kondisi lokasi pada pagi hari terlihat adanya beberapa orang dari TNI AL yang berjaga di depan pintu masuk SMAN 72 Jakarta.
Tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam lokasi kejadian ledakan tersebut. Tak hanya warga, aparat kepolisian pun ditanyakan terlebih dahulu jika ingin masuk ke dalam.
Selain itu, terlihat juga sejumlah aparat kepolisian yang memakai rompi Psikologi Kepolisian masuk ke dalam sekolah tersebut.
Sementara, salah satu kakak kandung korban yakni Muhamad Nur Karim (26) tidak bisa masuk ke dalam saat ingin mengambil barang milik adiknya yang masih berada di dalam sekolah.
“Saya mau mengambil barang bukti dari korban ya. Karena kata polisi setempat itu, masih jadi olah TKP, jadi belum boleh,” kata Karim kepada wartawan di lokasi, Jakarta Utara, Sabtu (8/11/2025).
Menurutnya, baru bisa masuk untuk mengambil barang di sekolah adiknya itu pada Senin, 10 November 2025. Barang miliknya adiknya yakni tas hingga motor.
“Kemungkinan nanti hari Senin baru boleh mengambil itu dari barang-barangnya dari korban. Ada tas sama itu sih, motor si, dari kelas XID,” pungkasnya.
KPAI Minta Trauma Healing Menyeluruh untuk Siswa
Ledakan mengguncang SMAN 72 Jakarta Utara pada Jumat siang, 7 November 2025, saat siswa dan guru bersiap untuk melaksanakan salat Jumat. Insiden ledakan SMAN 72 tersebut menimbulkan kepanikan dan menyebabkan sejumlah siswa mengalami luka-luka. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) segera menyoroti pentingnya penanganan trauma bagi seluruh siswa yang terlibat.
Ketua KPAI, Margaret Aliyatul Maimunah menegaskan bahwa dukungan psikologis tidak hanya diperlukan bagi siswa yang mengalami luka fisik, tetapi juga bagi mereka yang menyaksikan atau mendengar ledakan tersebut.
“Semua anak, baik mengalami luka atau tidak, yang mendengar atau menyaksikan kejadian pasti membutuhkan pendampingan,” ujarnya dikutip dari Antara pada Sabtu, 8 November 2025.
Margaret, menekankan, trauma healing harus diberikan secara menyeluruh. “Dampak psikologis dari peristiwa traumatis dapat memengaruhi siapa saja yang terpapar, terlepas dari apakah mereka mengalami cedera fisik atau tidak,” tambahnya.
KPAI merekomendasikan agar penanganan trauma dilakukan oleh psikolog tersertifikasi. Selain itu, pelibatan pihak berkompeten seperti Himpunan Psikologi Indonesia (HIMSI), Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA), serta kepolisian yang memiliki tenaga spesialis psikologi juga sangat penting.
Kondisi Korban dan Data Terkini
“KPAI merekomendasikan penanganan trauma dilakukan oleh psikolog tersertifikasi dan melibatkan sejumlah pihak yang berkompeten,” ujar Margaret.
Berdasarkan data sementara dari kepolisian, sebanyak 14 anak menjalani rawat inap, dengan mayoritas berusia di bawah 18 tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar tujuh anak harus menjalani operasi akibat luka yang cukup berat.
“Luka yang dialami bervariasi, ada di bagian kaki, ada yang jarinya harus diangkat kukunya, banyak juga yang mengeluhkan sakit pada telinga dan bagian kepala,” kata Margaret.
Data korban masih terus berkembang. Saat KPAI tiba di rumah sakit, tercatat sekitar 33 anak masih menjalani perawatan. Namun, secara total, angka korban sempat dilaporkan mencapai 37 orang, meskipun data ini belum final karena masih dalam pendataan polisi.
Beberapa korban awalnya ditangani di puskesmas, tapi kemudian dirujuk ke rumah sakit karena kondisi luka yang serius.
Source: Liputan6.com

































