Tempat Pembuangan Sampah Regional Jadi Solusi Persampahan di Kota Tangsel

38
Tempat Pembuangan Sampah Regional ( TPSR ) Cipeucang
Tempat Pembuangan Sampah Regional ( TPSR ) Cipeucang

Katakota.com– Tempat Pembuangan Sampah Regional (TPSR) yang akan ditindak lanjuti oleh Provinsi Banten telah dinanti oleh Kota Tangsel. Hal ini melihat eksiting Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang di tengah permukiman harus segera dipindah.

Kabid Persampahan, Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangsel, Wisman Syah mengutarakan impian dan harapan terwujudnya TPSR segera dibangun. Pasalnya sudah beberapa tahun kebelakangan ini konsepnya sudah ada, hanya saja hingga kini belum terdengar lagi akan dibangun kapan waktunya.

“Kami di wilayah, berharap semoga percepatan pembangunan dapat dilaksanakan untuk pembuatan Tempat Pembuangan Sampah Regionalguna mengatasi persoalan sampah,” katanya.

Persoalan sampah, diyakin bukan saja menjadi persoalan di wilayah Tangsel namun di banyak kota pun mengalami hal yang sama. Tentunya,dalam hal ini Kota Tangsel siap bekerjasama dengan wilayah Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang untuk keberhasilan TPSR.

“Kami siap kerjasama dengan tiga wilayah Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang untuk bersinergi dalam penanganan sampah yang ada di kota masing-masing,” tambahnya.

Melihat eksisting TPA Cipeucang yang berada tak jauh dari permukiman tentu tidak bisa untuk selamanya. Makanya dari Pemkot Tangsel mendorong supaya regional dapat didirikan agar mampu memberikan solusi jitu persoalan tentang persampahan yang ada.

“Tidak mungkin mengandalkan lahan Cipeucang selamanya. Pertama memang lokasinya di antara permukiman, di sisi lain wilayah Tangsel tidak ada lagi lahan yang kosong dan cukup luas karena memang sudah menjadi kawasan perkotaan,” sambungnya.

Wakil Walikota Tangsel, Benyamin Davnie menjelaskan sedang menanti realisasi pembangunan TPSR oleh Provinsi Banten. Mengapa, karena dengan melihat kondisi Cipeucang tidak mungkin lagi bertahap selamanya, sementara luasnya hanya 6 hektar untuk menampung sampah perharinyamencapai 800 ton dari tujuh kecamatan dengan jumlah penduduk mencapai 1,5 juta jiwa.

“Sampah yang dihasilkan per hari di Tangsel mencapai delapan ratus ton, tentu ini tidak mungkin menggunakan lahan Cipeucang yang luasnya lebih kurang hanya enam hektar,” tutur Benyamin.

Apalagi Cipeucang kondisinya dekat dengan permukiman perkotaan, tentu lambat laun semakin padat penduduk, mereka akan tidak nyaman, meski sudah diupayakan bagamana cara meredam bau sampah dengan berbagai cara seperti penanam pohon, pengolahan sampah dengan cara dan hal-hal lain.

“Ini belum menggunakan teknologi yang pasti harus ada solusi. Kendati demikian mengatasi persoalan sampah selama ini sudah diperbantukan melalui program bank sampah dan metode-metode lain seperti pengolahan daur ulang sampah, tapi belum mampu mengurangi secara signifikan,” tambah ia.

Sempitnya lahan di Wilayah Tangsel menjadi satu persoalan, dengan luas 147 kilometer persegi dengan jumlah terus bertambah maka mau tidak mau haris mencari solusi mulai sekarang. Tentu perencanaan agar tidak menjadi persoalan dikemudian hari soal sampah adalah langkah yang tepat.

“Semakin tahun pertumbuhan penduduk semakin meningkat, sementara lahan Cipeucang hanya itu saja, kawasan permukiman semakin padat meski kebijakan untuk hunian komersil lebih ke pembangunan gedung vertikal, tapi paling tidak langkah mencari solusi sudah dilakukan jauh-jauh hari oleh pemkot Tangsel,” tuturya. (dit)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.